Emas telah menjadi simbol nilai sepanjang sejarah. Dalam dua dekade terakhir, harga emas meningkat lebih dari 450%, dari sekitar USD 300 per ons pada tahun 2003, menjadi lebih dari USD 2.200 per ons hari ini. Di Indonesia, harga emas Antam pun melonjak hingga mencapai Rp 1,3 juta per gram pada April 2025, seiring dengan pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Di tengah ketidakpastian dunia ini, emas kembali menjadi pilihan banyak orang sebagai pelindung nilai.
1. Likuiditas: Emas Fisik yang Nyata vs Emas Digital yang Fleksibel
Jika Skandis memilih emas fisik, ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan emas tersebut. Emas fisik, seperti logam mulia produksi Antam atau UBS, dapat disimpan di rumah, disimpan dalam brankas, atau bahkan dibawa ke mana-mana saat keadaan darurat. Keuntungan utama emas fisik adalah nilainya yang nyata dan dapat dilihat secara langsung. Namun, menjual emas fisik ini membutuhkan waktu, tempat, dan bahkan terkadang negosiasi harga. Selain itu, spread harga jual-beli bisa cukup besar, antara 3-5%. Di sisi lain, emas digital menawarkan kemudahan yang tak dimiliki emas fisik. Dengan emas digital, Skandis bisa menjualnya hanya dalam hitungan detik melalui aplikasi seperti Tokopedia Emas, Pegadaian Digital, atau Pluang. Bahkan, transaksi bisa dilakukan dengan jumlah sangat kecil, mulai dari 0,01 gram. Meski begitu, harga jual dan beli emas digital bisa lebih berfluktuasi dengan spread yang lebih besar, antara 4-6%, apalagi dengan biaya layanan platform.2. Risiko dan Keamanan: Brankas vs Cloud
Menabung emas fisik tentu membutuhkan tempat penyimpanan yang aman. Jika ingin lebih aman, Skandis perlu menyewa safe deposit box di bank, yang biayanya bisa mencapai Rp 400.000 hingga Rp 1.000.000 per tahun. Meskipun begitu, risiko pencurian tetap ada, terutama jika emas disimpan di rumah tanpa pengamanan yang memadai.
Emas digital, di sisi lain, disimpan di platform digital atau “brankas institusi” yang memerlukan tingkat kepercayaan tinggi terhadap penyedia layanan. Jika platform digital tersebut mengalami serangan siber, masalah hukum, atau bahkan penutupan secara mendadak, Skandis mungkin menghadapi risiko kehilangan aset. Oleh karena itu, peran regulasi di dunia emas digital sangat penting untuk memberikan perlindungan bagi penggunanya.



