1. Malahayati
Nama besar Laksamana Keumalahayati atau yang lebih dikenal sebagai Malahayati menjadi simbol keberanian perempuan Aceh dalam melawan penjajah. Ia lahir di Aceh Besar pada tahun 1550 dan dikenal sebagai perempuan tangguh yang memiliki jiwa kepemimpinan luar biasa.
Malahayati memimpin pasukan Inong Balee, yaitu pasukan yang beranggotakan sekitar 2.000 janda para pejuang yang telah gugur di medan perang. Pasukan ini bukan sekadar simbol kekuatan perempuan, tetapi benar-benar menjadi kekuatan militer yang ditakuti lawan.
Dengan strategi yang cerdas dan keberanian tanpa rasa gentar, Malahayati berhasil memimpin perlawanan terhadap kapal dan benteng Belanda. Salah satu peristiwa paling terkenal adalah keberhasilannya menewaskan Cornelis de Houtman pada 11 September 1599.
Atas keberaniannya, ia mendapat gelar Laksamana—sebuah penghormatan besar yang sangat langka bagi perempuan pada masa itu. Malahayati gugur pada tahun 1615 saat mempertahankan Teluk Krueng Raya dari serangan Portugis yang dipimpin Laksamana Alfonso De Castro.
2. Martha Christina Tiahahu
Martha Christina Tiahahu adalah simbol keberanian perempuan muda dari Maluku. Ia lahir di Desa Abubu, Pulau Nusa Laut, pada 4 Januari 1800 dan sejak usia sangat muda telah menunjukkan keberanian luar biasa.
Di usia 17 tahun, Martha sudah turun langsung ke medan perang melawan penjajah Belanda. Ia tidak hanya mengangkat senjata, tetapi juga aktif membangkitkan semangat kaum perempuan untuk ikut membantu perjuangan para laki-laki.
Perjuangannya semakin berat ketika sang ayah, Kapitan Paulus Tiahahu, dijatuhi hukuman mati oleh Belanda. Kehilangan itu sangat memukul kondisi fisik dan mentalnya.
Setelah ditangkap bersama puluhan pejuang lainnya, Martha dibawa ke Pulau Jawa dengan kapal Eversten untuk dijadikan pekerja paksa di perkebunan kopi. Namun, selama perjalanan, kondisi kesehatannya terus memburuk.
Ia menolak makan dan pengobatan, hingga akhirnya meninggal dunia pada 2 Januari 1818. Jenazahnya kemudian disemayamkan dengan penghormatan militer di Laut Banda—sebuah penghormatan terakhir bagi pejuang muda yang begitu berani.
3. Nyi Ageng Serang
Nyi Ageng Serang yang memiliki nama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi adalah salah satu tokoh perempuan penting dalam sejarah perjuangan Jawa. Ia merupakan keturunan Sunan Kalijaga dan lahir pada tahun 1752.
Sejak muda, ia sudah terlibat dalam perjuangan bersama ayahnya, Pangeran Natapraja, dan kakaknya, Kyai Ageng Serang. Semangat perlawanannya semakin besar setelah kakaknya gugur saat membela Pangeran Mangkubumi melawan kekuasaan yang didukung Belanda.
Meski kehilangan ayah, kakak, bahkan suaminya, semangatnya tidak pernah padam. Bahkan di usia 73 tahun, Nyi Ageng Serang masih memimpin pasukan dan aktif dalam perjuangan melawan penjajah.
Pangeran Diponegoro sendiri mengakui kecerdasannya dalam menyusun strategi perang dan mempercayainya sebagai salah satu penasihat penting. Ia meninggal dunia dua tahun sebelum Perang Diponegoro berakhir akibat wabah malaria pada usia 76 tahun.
4. Cut Nyak Dhien
Nama Cut Nyak Dhien menjadi salah satu ikon perjuangan perempuan Indonesia yang paling dikenal. Perempuan asal Aceh ini dikenal karena keberaniannya yang luar biasa dalam melawan Belanda.
Semangat perlawanannya semakin kuat setelah suaminya, Ibrahim Lamnga, gugur dalam pertempuran melawan penjajah pada 29 Juni 1878. Rasa kehilangan itu justru menjadi bahan bakar perjuangannya.
Pada tahun 1880, Cut Nyak Dhien menikah dengan Teuku Umar, seorang pejuang besar Aceh. Bersama, mereka menjadi pasangan pejuang yang sangat ditakuti Belanda.
Namun pada 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur di medan perang. Setelah itu, Cut Nyak Dhien tetap melanjutkan perjuangan seorang diri di pedalaman Meulaboh dengan pasukan kecil yang tersisa.
Karena pengaruhnya sangat besar terhadap rakyat Aceh, Belanda akhirnya mengasingkannya ke Sumedang. Di sanalah ia menghabiskan masa akhir hidupnya dan meninggal pada 6 November 1908.
5. Cut Nyak Meutia
Aceh kembali melahirkan sosok perempuan pejuang hebat melalui Cut Nyak Meutia. Ia dikenal sebagai perempuan pemberani yang tidak pernah menyerah menghadapi penjajahan Belanda.
Awalnya, ia berjuang bersama suaminya, Teuku Muhammad. Namun sang suami berhasil ditangkap Belanda dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1905.
Sesuai pesan terakhir suaminya, Cut Nyak Meutia kemudian menikah dengan Pang Nanggroe untuk melanjutkan perjuangan. Bersama, mereka terus melakukan perlawanan terhadap Korps Marechausée Belanda.
Pada 26 September 1910, Pang Nanggroe gugur dalam pertempuran, tetapi Cut Nyak Meutia berhasil lolos. Meski kehilangan lagi, ia tetap melanjutkan perjuangan bersama sisa pasukannya hingga akhirnya gugur pada 24 Oktober 1910.
6. Maria Walanda Maramis
Maria Walanda Maramis dikenal sebagai Kartini dari Minahasa karena dedikasinya terhadap pendidikan perempuan. Ia lahir pada 1 Desember 1872 dan memiliki pandangan yang sangat maju untuk zamannya.
Karena keterbatasan akses pendidikan, Maria hanya sempat bersekolah di Sekolah Melayu selama tiga tahun dan tidak dapat melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.
Pengalaman itu membuatnya sadar bahwa perempuan membutuhkan pendidikan agar dapat hidup lebih mandiri dan bermartabat. Ia kemudian mendirikan organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya atau PIKAT.
Melalui PIKAT, perempuan diajarkan berbagai keterampilan penting seperti memasak, menjahit, merawat bayi, serta pengetahuan berumah tangga yang mendukung kualitas hidup keluarga.
Maria terus aktif memperjuangkan pendidikan perempuan hingga akhir hayatnya pada 22 April 1924.
7. Dewi Sartika
Selain Maria Walanda Maramis, Indonesia juga memiliki Dewi Sartika sebagai tokoh besar dalam perjuangan pendidikan perempuan. Ia adalah sosok visioner yang percaya bahwa perempuan berhak mendapatkan pendidikan yang layak.
Pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika mendirikan Sekolah Isteri di Pendopo. Sekolah ini menjadi tempat belajar bagi perempuan agar mereka memiliki wawasan dan keterampilan yang lebih luas.
Seiring waktu, sekolah tersebut berganti nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Isteri pada tahun 1910 dan kemudian berubah lagi menjadi Sekolah Raden Dewi pada tahun 1929.
Atas jasanya yang besar dalam dunia pendidikan, Dewi Sartika dianugerahi gelar Orde van Oranje-Nassau. Ia juga resmi diakui sebagai Pahlawan Nasional pada 1 Desember 1966. Dewi Sartika meninggal dunia pada 11 September 1947.
8. Andi Depu
Andi Depu Maraddia Balanipa adalah pejuang perempuan dari Polewali Mandar, Sulawesi Barat, yang dikenal karena keberaniannya mempertahankan wilayahnya dari penjajahan Belanda.
Ia menjadi sosok penting dalam menjaga martabat rakyat Mandar dan menolak penaklukan kolonial. Salah satu tindakan paling berani yang dilakukan Andi Depu adalah mengibarkan bendera Merah Putih saat pasukan Jepang datang ke Mandar pada tahun 1942.
Tindakan tersebut menunjukkan keberanian luar biasa karena dilakukan di tengah situasi yang sangat berbahaya.
Atas perjuangannya, Presiden Soekarno menganugerahkan Bintang Mahaputra Tingkat IV. Kemudian, Presiden Joko Widodo juga menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123/TK/Tahun 2018.
9. Rasuna Said
Hajjah Rangkayo Rasuna Said atau lebih dikenal sebagai Rasuna Said adalah pejuang perempuan yang memperjuangkan kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki, terutama melalui jalur pendidikan dan politik.
Menurutnya, kemajuan perempuan tidak cukup hanya melalui sekolah, tetapi juga harus diperjuangkan melalui keterlibatan aktif dalam politik dan kehidupan sosial bangsa.
Rasuna Said dikenal berani menyampaikan pidato-pidato keras yang mengecam pemerintahan kolonial Belanda. Karena keberaniannya itu, ia terkena hukum Speek Delict, yaitu hukum kolonial yang digunakan untuk menghukum orang-orang yang berbicara menentang Belanda.
Ia sempat ditangkap bersama rekannya, Rasimah Ismail, dan dipenjara di Semarang pada tahun 1932.
Setelah Indonesia merdeka, Rasuna Said tetap aktif dalam dunia politik. Ia menjadi anggota Dewan Perwakilan Sumatra, anggota DPR RIS, hingga Dewan Pertimbangan Agung.
Rasuna Said meninggal dunia pada 2 November 1965 akibat kanker darah, namun semangat perjuangannya tetap hidup hingga hari ini.



