Hello Skandis!
Skandis pasti mengetahui istilah ‘toxic’ marak digunakan beberapa tahun terakhir. Fungsinya untuk mendefinisikan sesuatu yang dianggap memberi pengaruh buruk, mulai dari lingkungan, teman, bahkan keluarga.
Teman dan lingkungan yang toxic berada di area luar dari diri Skandis yang mungkin akan lebih mudah melabel dan menghindarinya. Tapi bagaimana jika toxic itu sendiri justru berada sangat dekat dengan kita, yaitu keluarga.
Keluarga dikatakan toxic ketika rasa nyaman yang semestinya melekat padanya justru pelan-pelan terkikis menjadi perasaan diremehkan. Tidak ada lagi perasaan dihargai dan dihormati saat bersama.
Perbedaan mendasar family tocix dengan lingkungan atau teman yang toxic adalah tidak secara utuh dan menyeluruh keluarga memberi efek buruk pada berbagai perkara dalam kehidupan.
Biasanya dalam hal tertentu keluarga cenderung menjadi orang-orang yang menyebalkan bahkan memaksakan opini dan perlakuan pada satu atau dua hal dalam hidup kita, namun pada sisi yang lain mereka mencurahkan kasih sayang dan penghargaan kepada Skandis.
Misalnya saja, keluarga menjadi sangat tidak bersahabat atau bahkan cenderung tidak menerima keputusan Skandis dalam urusan pemilihan teman. Namun mereka sangat hangat dan terlihat begitu menghormati Skandis dalam pemilihan tujuan hidup dan karier.
Lantas bagaimana caranya untuk tetap menjalani hubungan keluarga yang baik, terlepas dari peran toxic keluarga dalam satu atau dua hal.
1. Menjadi diri sendiri
Mulailah dengan bertanya kepada diri Skandis sendiri apa yang sebenarnya Skandis inginkan. Pertanyaan ini harus detail mulai dari apa, bagaimana, kapan dan penjelasan lainnya. Hal ini benar-benar harus lahir dari keinginan dan kesadaran diri Skandis tanpa intervensi dari apa atau siapapun.
Ini akan memudahkan Skandis untuk tetap berada pada jalur yang telah Skandis tetapkan sekalipun keluarga meminta Skandis untuk mengoreksi bahkan merubah pendapat dan apa yang ingin, sedang, dan telah dilakukan.
2. Mempertahankan diri
Jika bicara tentang mempertahankan diri maka hal pertama yang harus Skandis lakukan adalah memastikan apa yang telah Skandis pilih sudah berada pada jalur yang baik dan benar.
Hal ini akan membantu Skandis untuk menyiapkan amunisi opini yang mendukung apa yang telah Skandis putuskan sebagai upaya Skandis mempertahankan diri .
3. Mengelompokkan urusan pribadi dan keluarga
Bicara tentang pengelompokan pribadi dan keluarga rasanya tidak mudah. Karena biasanya keluarga menjadi dasar bagi Skandis mengambil keputusan dan cita-cita.
Baca Juga:
- 7 Kesalahan Orang Tua yang Dapat Menghancurkan Masa Depan Karier Anak
- Beberapa Sikap Orang Tua Yang akan Menyakiti Hati Anak
- Waspadai 9 Kebiasaan Buruk Orangtua yang Dapat Merugikan Anak
Namun hal ini bisa Skandis batasi dengan pengambilan keputusan secara utama bukan mendetail. Skandis tetap harus memilih dan memilah apa saja yang menjadi konsumsi dan berelasi dengan keluarga dan mana yang merupakan murni menjadi otoritas Skandis.
4. Berani menolak
Jika selama ini Skandis menjadi orang yang cenderung pasif dalam memperjuangkan apa yang menjadi keinginan Skandis dihadapan keluarga, maka belajarlah untuk berargumen. Belajarlah untuk mengatakan tidak pada hal-hal yang tidak membuat Skandis nyaman.
Jangan berpikir untuk menghindar dari pembicaraan yang sekiranya dapat membuat Skandis menjadi santapan lezat. Tapi berusahalah untuk berdiri dan mengatakan cara pandang Skandis sendiri.
5. Tidak memasakan kehendak
Hanya karena mereka adalah keluarga Skandis yang dimana terbentuk sebagai fitrah Tuhan, maka bukan berarti mereka akan selalu sepemikiran dan sejalan dengan Skandis.
Ingatlah bahwa keberagaman justru memberi warna dan seringkali menciptakan rasa rindu.
Jika mereka terkesan memaksa atau mengintimidasi Skandis dalam hal tertentu bukan berarti Skandis melakukan hal yang sama. Tetaplah berada pada zona yang Skandis yakini tanpa berbalik menekan orang lain untuk menerima.
Kontrollah apa mampu Skandis kendalikan dan berhenti pada hal-hal diluar tersebut. Skandis dan mereka tetaplah berbeda, berharap mereka menyetujui apa yang Skandis inginkan tentu saja boleh tapi mengusahakan secara berlebihan agar seiya-sekata adalah perbuatan sia-sia.
Semoga Bermanfaat!
Oleh: Eka Sawitri Rahayu



