Hello Skandis
Kue keranjang memiliki keterkaitan erat dengan perayaan Tahun Baru Imlek. Hidangan ini selalu menjadi favorit di seluruh dunia saat Imlek tiba. Dengan cita rasa manis, tekstur lengket saat dipotong, dan sedikit kenyal saat disantap, kue keranjang memiliki daya tarik tersendiri.
Ada banyak fakta menarik seputar kue keranjang yang bisa Skandis ketahui. Mulai dari nama aslinya, cara pembuatannya, hingga sejarah dan maknanya dalam budaya Tionghoa. Simak enam fakta menarik tentang kue keranjang khas Imlek yang telah dirangkum dari berbagai sumber berikut ini.
1. Nama Lain dari Nian Gao
Kue keranjang tidak hanya populer di Indonesia, tetapi juga menjadi hidangan khas Imlek di Tiongkok. Dilansir dari China Highlight, nama asli kue keranjang adalah nian gao (nyen-gao). Dalam bahasa Mandarin, “nian” berarti tahun, sedangkan “gao” berarti kue.
2. Dipercaya Membawa Keberuntungan
Seperti halnya makanan khas Imlek lainnya, kue keranjang juga dipercaya membawa keberuntungan. Hal ini disebabkan oleh pengucapan “nyen gao” yang terdengar mirip dengan frasa yang berarti “tahun yang lebih tinggi.” Makna ini dapat diartikan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari peningkatan status sosial, pertumbuhan anak-anak, hingga peningkatan rezeki di tahun yang baru.
3. Mulanya Disajikan sebagai Persembahan untuk Dewa Dapur
Asal-usul kue keranjang berasal dari berbagai kisah, salah satunya terkait dengan persembahan kepada Dewa Dapur (Kitchen God). Menurut legenda Tiongkok, Dewa Dapur bertugas memberikan laporan tahunan kepada Kaisar Giok.
Untuk menghindari laporan buruk dari sang dewa, masyarakat Tiongkok pada zaman dahulu menyiapkan kue keranjang sebagai persembahan sebelum Tahun Baru Imlek. Harapannya, kue yang manis dan lengket ini dapat “menutup mulut” Dewa Dapur agar hanya menyampaikan hal-hal baik kepada Kaisar Giok.
4. Dibuat dari Tembok Batu Fondasi
Sebuah legenda lain menyebutkan bahwa asal-usul kue keranjang bermula sekitar 2.500 tahun yang lalu, pada masa Kerajaan Wu. Setelah kematian Wu Zixu, seorang jenderal dan politikus dari Kerajaan Wu, pada tahun 771-476 SM, Raja Yue dari Goujian menyerang ibu kota Wu.
Akibat serangan tersebut, masyarakat dan pasukan di kota Wu terjebak tanpa persediaan makanan. Kelaparan pun melanda, menyebabkan banyak korban jiwa. Namun, seseorang teringat akan pesan Wu Zixu semasa hidupnya. Ia pernah berpesan agar, dalam masa sulit, mereka menggali tanah sedalam tiga kaki di bawah tembok kota untuk menemukan makanan.
Mengingat pesan tersebut, para prajurit segera menggali di bawah tembok kota. Mereka menemukan bahwa fondasi tembok ternyata terbuat dari batu bata khusus berbahan dasar tepung ketan. Konon, dari sinilah cikal bakal kue keranjang bermula, sebagai makanan penyelamat bagi warga Zu.
5. Dimasak Selama 12 Jam
Proses pembuatan kue keranjang membutuhkan waktu yang cukup lama. Kue ini harus dikukus selama kurang lebih 12 jam. Selama proses pengukusan, suhu api harus dijaga agar panasnya merata hingga ke bagian dalam.
Setelah matang, kue keranjang dipindahkan ke ruang pengemasan untuk kemudian dibungkus sebelum akhirnya siap dikonsumsi. Proses ini memastikan bahwa tekstur dan cita rasa kue tetap terjaga dengan baik, seperti dilaporkan oleh Kompas.com.
6. Olahan Kue Keranjang di China Beragam
Jika di Indonesia kue keranjang sering kali diolah dengan cara sederhana, seperti digoreng, di China, hidangan ini memiliki berbagai variasi.
Di wilayah China Utara, kue keranjang biasanya dicampur dengan jujube, baik sebagai taburan maupun isian. Sementara itu, di Shanghai, kue keranjang lebih sering diiris tipis dan ditumis bersama daun bawang, sayuran, serta daging babi.
Di Provinsi Fujian, kue keranjang dibuat menggunakan gula putih atau gula merah dan dikombinasikan dengan kacang tanah, kurma merah, kenari, serta berbagai jenis buah lainnya.
Nah, Skandis, semoga informasi ini bermanfaat!



