Mengapa Serangan Jantung Bisa Terjadi Saat Berolahraga?
Secara umum, olahraga justru bermanfaat untuk memperkuat otot jantung. Namun, pada seseorang yang memiliki penyakit jantung yang belum terdiagnosis, aktivitas fisik yang terlalu berat dapat meningkatkan kebutuhan oksigen pada otot jantung. Jika pembuluh darah koroner mengalami penyempitan akibat penumpukan plak, suplai darah dan oksigen menuju jantung menjadi tidak mencukupi. Kondisi inilah yang dapat memicu munculnya gejala angina (nyeri dada), gangguan irama jantung (aritmia), bahkan serangan jantung. Penelitian yang dipublikasikan melalui PubMed menunjukkan bahwa banyak orang cenderung mengabaikan gejala ringan seperti rasa tidak nyaman di dada atau detak jantung yang tidak beraturan saat berolahraga. Padahal, gejala tersebut dapat menjadi tanda awal adanya gangguan pada sistem kardiovaskular.1. Nyeri atau Rasa Tidak Nyaman di Dada
Nyeri dada merupakan gejala paling umum yang muncul pada awal serangan jantung. Sensasinya tidak selalu berupa rasa sakit yang tajam, tetapi dapat berupa dada terasa berat, tertekan, sesak, seperti tertindih benda berat, atau muncul rasa terbakar. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RS Universitas Indonesia, dr. Berlian I. Idris, menjelaskan bahwa kelelahan berlebihan saat berolahraga dapat memicu munculnya gejala tersebut, terutama pada seseorang yang sebelumnya memiliki gangguan jantung tetapi belum menyadarinya. Rasa tidak nyaman ini bahkan dapat menjalar ke:- Lengan kiri atau kedua lengan.
- Bahu.
- Leher.
- Rahang.
- Punggung bagian atas.
2. Sesak Napas yang Tidak Wajar
Bernapas lebih cepat saat berolahraga merupakan respons tubuh yang normal. Namun, sesak napas yang terasa sangat berat, muncul secara tiba-tiba, atau terjadi saat melakukan aktivitas ringan patut diwaspadai. Kondisi tersebut dapat menandakan bahwa jantung tidak mampu memompa darah secara optimal sehingga suplai oksigen ke seluruh tubuh menjadi berkurang. Sesak napas akibat gangguan jantung biasanya disertai beberapa gejala lain, seperti:- Napas terasa pendek meskipun aktivitas ringan.
- Kesulitan berbicara karena kehabisan napas.
- Dada terasa penuh atau tertekan.
- Napas tidak membaik meskipun sudah beristirahat.
3. Pusing, Kepala Terasa Ringan, atau Pingsan
Pusing yang muncul saat berolahraga tidak selalu disebabkan oleh dehidrasi atau kadar gula darah yang menurun. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat terjadi karena aliran darah menuju otak tidak mencukupi akibat gangguan fungsi jantung. Jika jantung tidak mampu memompa darah secara efektif atau mengalami gangguan irama, tekanan darah dapat turun secara drastis sehingga menyebabkan kepala terasa ringan, pandangan berkunang-kunang, hingga kehilangan kesadaran. Gejala ini merupakan tanda bahaya yang membutuhkan evaluasi medis segera karena dapat meningkatkan risiko cedera akibat jatuh maupun komplikasi yang lebih serius.4. Jantung Berdebar atau Detak Jantung Tidak Teratur
Saat berolahraga, detak jantung memang akan meningkat sebagai respons normal terhadap aktivitas fisik. Namun, apabila jantung berdebar sangat cepat, terasa tidak beraturan, atau seperti “meloncat-loncat”, kondisi tersebut dapat mengindikasikan adanya aritmia. Aritmia merupakan gangguan pada sistem kelistrikan jantung yang menyebabkan denyut jantung menjadi terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan. Selain rasa berdebar, gejala yang dapat menyertainya meliputi:- Pusing.
- Sesak napas.
- Nyeri dada.
- Kelelahan mendadak.
- Hampir pingsan.
5. Kelelahan Ekstrem yang Tidak Seimbang dengan Aktivitas
Merasa lelah setelah berolahraga merupakan hal yang normal. Akan tetapi, apabila Skandis mengalami kelelahan yang sangat berat meskipun hanya melakukan aktivitas ringan, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele. Kelelahan ekstrem dapat menjadi pertanda bahwa jantung mengalami kesulitan memompa darah dan oksigen ke seluruh tubuh. Akibatnya, otot dan organ vital tidak mendapatkan suplai energi yang cukup sehingga tubuh terasa sangat lemas. Gejala ini semakin perlu diwaspadai apabila disertai dengan:- Keringat dingin.
- Mual atau muntah.
- Nyeri dada.
- Sesak napas.
- Detak jantung tidak normal.
Faktor yang Meningkatkan Risiko Serangan Jantung Saat Berolahraga
Beberapa kondisi berikut dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan jantung saat melakukan aktivitas fisik:- Memiliki riwayat penyakit jantung.
- Tekanan darah tinggi.
- Diabetes melitus.
- Kolesterol tinggi.
- Kebiasaan merokok.
- Obesitas.
- Riwayat keluarga dengan penyakit jantung.
- Jarang berolahraga, tetapi langsung melakukan aktivitas berat.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Gejala Muncul Saat Berolahraga?
Apabila muncul salah satu atau beberapa gejala di atas saat berolahraga, jangan memaksakan diri untuk melanjutkan aktivitas. Langkah yang sebaiknya dilakukan antara lain:- Segera hentikan olahraga.
- Duduk atau berbaring di tempat yang aman.
- Longgarkan pakaian yang terasa ketat.
- Mintalah bantuan orang di sekitar apabila gejala tidak membaik.
- Segera menuju fasilitas kesehatan atau hubungi layanan darurat jika nyeri dada berlangsung lebih dari beberapa menit atau disertai sesak napas berat dan penurunan kesadaran.
Tips Berolahraga dengan Aman untuk Menjaga Kesehatan Jantung
- Lakukan pemeriksaan kesehatan apabila memiliki faktor risiko penyakit jantung.
- Mulailah olahraga secara bertahap sesuai kemampuan tubuh.
- Lakukan pemanasan dan pendinginan.
- Hindari olahraga saat tubuh sedang sakit atau kurang fit.
- Pastikan tubuh tetap terhidrasi.
- Jangan memaksakan intensitas olahraga yang terlalu berat.
- Segera hentikan aktivitas apabila muncul gejala yang tidak biasa.



