1️⃣ Yogyakarta – Jalan Malioboro (Indonesia)
Malioboro bukan sekadar jalan, melainkan simbol budaya Yogyakarta.- Pusat belanja batik dan kerajinan lokal
- Surga kuliner tradisional
- Ruang publik ramah pejalan kaki
2️⃣ Penang – Gurney Drive (Malaysia)
Gurney Drive dikenal sebagai ikon kuliner tepi laut.- Hawker food kelas dunia
- Kombinasi wisata kuliner dan waterfront lifestyle
- Daya tarik bagi wisatawan domestik dan internasional
3️⃣ Chiang Mai – Nimman Road (Thailand)
Nimman Road adalah pusat gaya hidup modern di Chiang Mai.- Kafe estetik dan galeri seni
- Butik lokal kreatif
- Komunitas digital nomad yang berkembang
4️⃣ Da Nang – Bach Dang Street (Vietnam)
Terletak di tepi Sungai Han, kawasan ini berkembang pesat sebagai pusat rekreasi dan hiburan.- Pemandangan sungai ikonik
- Kafe dan restoran modern
- Akses mudah ke destinasi wisata pantai
5️⃣ Cebu City – Colon Street (Filipina)
Salah satu jalan tertua di Filipina yang kini menjadi pusat aktivitas urban.- Pusat perdagangan lokal
- Ruang interaksi sosial masyarakat
6️⃣ Siem Reap – Pub Street (Kamboja)
Gerbang hiburan malam dekat kompleks Angkor.- Restoran internasional
- Bar dan pertunjukan seni
- Magnet wisatawan global
7️⃣ Mandalay – 78th Street (Myanmar)
Kawasan ini menjadi urat nadi perdagangan dan aktivitas warga lokal.8️⃣ Luang Prabang – Sisavangvong Road (Laos)
Jalan utama kota warisan dunia UNESCO.- Night market khas Laos
- Arsitektur kolonial yang terjaga
9️⃣ Kuala Belait – Jalan Pretty (Brunei Darussalam)
Pusat komersial kota kecil yang strategis dan terus berkembang.Mengapa Kota Non-Ibu Kota Semakin Kompetitif?
Temuan ini memperlihatkan beberapa faktor kunci:- Penguatan identitas lokal sebagai daya tarik utama
- Aksesibilitas yang semakin baik melalui bandara dan infrastruktur
- Pengembangan ruang publik yang ramah pejalan kaki
- Ekonomi kreatif dan UMKM yang tumbuh pesat



