Memahami Beban Ganda Generasi Sandwich
Generasi sandwich adalah kelompok usia produktif yang harus menanggung kebutuhan dua generasi sekaligus: anak-anak yang masih membutuhkan dukungan finansial dan orang tua yang memasuki usia lanjut. Kelompok ini berada di posisi “terjepit” karena harus memenuhi biaya pendidikan, konsumsi, kesehatan, hingga kebutuhan masa depan anak, sementara di sisi lain membantu biaya hidup, pengobatan, atau kebutuhan harian orang tua.
Perencana keuangan Mike Rini Sutikno menjelaskan bahwa dalam praktiknya, generasi sandwich umumnya mengalokasikan 20 hingga 30 persen pendapatan untuk orang tua, serta 40 sampai 50 persen untuk keluarga inti. Artinya, hanya tersisa sekitar 20–40 persen pendapatan untuk kebutuhan diri sendiri, termasuk tabungan dan investasi jangka panjang.
Perencana keuangan Melvin Mumpuni menambahkan bahwa permasalahan utama generasi sandwich adalah penghasilan yang pas dengan pengeluaran—bahkan terkadang kurang. Ketika porsi penghasilan yang digunakan untuk membantu orang tua terlalu besar dibandingkan dengan total pendapatan, maka kemampuan menabung dan berinvestasi menjadi semakin terbatas.
Tekanan ini semakin berat karena biaya perawatan lansia terus meningkat. Banyak generasi sandwich juga kehilangan peluang ekonomi karena harus mengurangi jam kerja atau menyesuaikan aktivitas demi merawat anggota keluarga.
Risiko Terbesar: Mengorbankan Dana Pensiun
Pada 2026, risiko terbesar bagi masa pensiun bukan hanya berhentinya penghasilan. Kombinasi inflasi biaya hidup, kenaikan biaya kesehatan, usia harapan hidup yang semakin panjang, dan ketergantungan finansial antargenerasi dapat mengancam ketahanan finansial jika tidak dipersiapkan sejak dini. Perencana keuangan Rista Zwestika menegaskan bahwa tujuan pensiun bukan sekadar berhenti bekerja, tetapi tetap memiliki kemandirian finansial, martabat, dan kualitas hidup yang baik tanpa harus bergantung kepada anak. Sayangnya, banyak generasi sandwich justru mengorbankan tabungan pensiun demi memenuhi kebutuhan saat ini. Beberapa alasan dana pensiun sering terabaikan antara lain:- Prioritas yuridis seimbang karena kebutuhan diri sendiri sering ditempatkan paling akhir setelah anak dan orang tua.
- Merasa masih memiliki banyak waktu, sehingga menunda menabung padahal efek bunga majemuk sangat bergantung pada lamanya investasi.
- Tekanan kebutuhan jangka pendek, seperti biaya pendidikan dan kesehatan keluarga, terasa lebih mendesak.
- Literasi keuangan masih rendah, sehingga banyak orang belum memahami dampak jangka panjang ketika menghentikan investasi pensiun.



