Memahami Aging Population: Lebih dari Sekadar Angka
Indonesia bukan lagi negara dengan struktur penduduk yang didominasi kelompok usia muda. Perubahan komposisi penduduk ini membawa konsekuensi besar terhadap ekonomi, sistem kesehatan, dan kondisi sosial masyarakat. Fenomena aging population terlihat jelas di berbagai provinsi. DI Yogyakarta memiliki proporsi lansia tertinggi, mencapai sekitar 17,83 persen, diikuti Jawa Timur dan Bali. Artinya, hampir satu dari lima penduduk di wilayah tersebut merupakan kelompok lanjut usia. Secara nasional, struktur penduduk Indonesia juga mengalami perubahan signifikan. Proporsi kelompok usia 0–14 tahun terus menurun, sementara kelompok usia 65 tahun ke atas terus meningkat. Pergeseran ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang memasuki fase transisi demografi yang akan memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dengan semakin besarnya jumlah lansia, beban ekonomi yang harus ditanggung kelompok usia produktif juga ikut meningkat.Rasio Ketergantungan: 100 Orang Produktif Menanggung 45 Orang Nonproduktif
Salah satu indikator penting dalam melihat kondisi demografi adalah rasio ketergantungan, yaitu perbandingan jumlah penduduk usia nonproduktif dengan penduduk usia produktif. Berdasarkan hasil SUPAS 2025, rasio ketergantungan Indonesia mencapai 45,05. Artinya, setiap 100 orang usia produktif harus menopang sekitar 45 orang yang berada pada usia nonproduktif, baik anak-anak maupun lansia. Yang perlu menjadi perhatian adalah tren rasio ketergantungan mulai kembali meningkat. Setelah sempat mengalami penurunan selama beberapa tahun, angka tersebut kembali naik seiring bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa meskipun Indonesia masih menikmati bonus demografi, fase aging population telah dimulai sehingga diperlukan persiapan yang lebih matang, baik dari sisi kebijakan maupun perencanaan keuangan keluarga.Mengapa Lansia Masih Bergantung pada Keluarga?
Data BPS menunjukkan bahwa keluarga masih menjadi penopang utama kehidupan lansia di Indonesia. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi tersebut. Pertama, cakupan dana pensiun dan perlindungan sosial masih belum merata. Sebagian besar lansia belum memiliki sumber penghasilan tetap setelah berhenti bekerja sehingga bergantung pada anak atau anggota keluarga lainnya. Kedua, biaya kesehatan lansia terus meningkat. Pengobatan penyakit kronis, perawatan jangka panjang, hingga kebutuhan pendampingan sehari-hari membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ketiga, perencanaan keuangan masa tua masih relatif rendah. Banyak masyarakat belum mempersiapkan dana pensiun secara memadai sehingga ketika memasuki usia lanjut, tabungan yang tersedia tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup. Keempat, budaya kekeluargaan di Indonesia masih sangat kuat. Anak-anak umumnya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk membantu memenuhi kebutuhan orang tua ketika memasuki usia lanjut.Dampak bagi Generasi Produktif dan Keluarga Muda
Fenomena aging population memberikan konsekuensi yang cukup besar bagi kelompok usia produktif, khususnya generasi sandwich yang harus memenuhi kebutuhan anak sekaligus orang tua. Di tengah meningkatnya biaya hidup, cicilan, pendidikan anak, dan kebutuhan sehari-hari, tanggung jawab merawat orang tua dapat mengurangi kemampuan keluarga untuk menabung maupun berinvestasi. Beberapa dampak yang paling sering terjadi antara lain:- Tabungan pensiun berkurang karena sebagian pendapatan dialihkan untuk membantu orang tua.
- Investasi jangka panjang tertunda akibat terbatasnya sisa pendapatan yang dapat diinvestasikan.
- Meningkatnya stres dan kelelahan karena harus menyeimbangkan pekerjaan, keluarga, dan tanggung jawab finansial.
- Berkurangnya peluang ekonomi karena sebagian orang harus mengurangi aktivitas kerja untuk merawat anggota keluarga lanjut usia.
Mengubah Tantangan Menjadi Peluang
Meskipun menghadirkan berbagai tantangan, aging population juga membuka peluang berkembangnya silver economy, yaitu aktivitas ekonomi yang berfokus pada kebutuhan masyarakat lanjut usia, mulai dari layanan kesehatan, produk keuangan, hingga teknologi pendukung kehidupan lansia. Bagi Skandis, beberapa langkah yang dapat dilakukan sejak sekarang antara lain:- Mulai merencanakan dana pensiun sejak dini.
- Mendorong orang tua memiliki perlindungan kesehatan dan jaminan hari tua.
- Membangun komunikasi terbuka mengenai kondisi keuangan keluarga.
- Memanfaatkan program perlindungan sosial dan jaminan yang tersedia.
- Membangun aset produktif yang dapat menghasilkan pendapatan pasif di masa depan.



