Memahami Mekanisme IPO untuk Investor Ritel
Sebelum membahas hal-hal yang wajib dicek, penting bagi Skandis untuk memahami bagaimana mekanisme partisipasi investor ritel dalam IPO.Cara Berpartisipasi dalam IPO
Investor ritel dapat memesan saham IPO melalui sistem e-IPO (electronic Initial Public Offering) yang disediakan BEI dan diawasi oleh OJK. Skandis dapat mengakses e-IPO melalui platform sekuritas atau broker yang telah terdaftar, seperti aplikasi IPOT yang memungkinkan pemesanan saham IPO secara langsung dan terintegrasi. Syarat utama untuk berpartisipasi adalah memiliki Rekening Dana Nasabah (RDN) yang aktif dan sudah terisi dana sebelum masa penawaran berlangsung.Aturan Penjatahan Terbaru OJK
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan aturan baru terkait penjatahan IPO melalui SEOJK 25/2025 yang mulai berlaku pada 2026. Beberapa poin penting:- Porsi investor ritel dan non-ritel kini disetarakan dengan rasio 1:1, menggantikan struktur 1:2 sebelumnya.
- Porsi penjatahan untuk investor ritel dinaikkan menjadi setengah dari total penjatahan terpusat (sebelumnya hanya sekitar sepertiga).
- Investor ritel hanya bisa mendapatkan maksimal 10 persen dari total saham yang ditawarkan lewat IPO.
Hal-Hal yang Wajib Dicek Sebelum Membeli Saham IPO
Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, menegaskan bahwa keputusan berinvestasi tidak cukup hanya melihat momentum IPO-nya saja, tetapi harus mempertimbangkan berbagai faktor fundamental. Berikut adalah daftar lengkap yang wajib Skandis periksa:1. Prospek Sektor Usaha dan Kondisi Makroekonomi
Emiten yang berasal dari sektor dengan prospek pertumbuhan yang baik umumnya memiliki peluang lebih besar untuk mencatatkan kinerja positif dalam jangka panjang. Skandis perlu memperhatikan momentum sektoral berdasarkan kondisi makroekonomi. Pada 2026, sektor-sektor defensif seperti consumer staples, kesehatan, energi baru dan terbarukan (EBT), serta sektor yang berkaitan dengan ekosistem hilirisasi menjadi yang paling menarik. Hal ini tercermin dari mayoritas emiten yang IPO pada 2026 berasal dari sektor kesehatan dan consumer non-cyclicals.2. Kredibilitas dan Track Record Underwriter
Kredibilitas penjamin emisi efek (underwriter) juga menjadi faktor penting dalam proses seleksi. Track record underwriter dapat mencerminkan kualitas proses penawaran saham, mulai dari penentuan valuasi hingga distribusi saham kepada publik. Skandis perlu memeriksa siapa underwriter yang menangani IPO tersebut dan bagaimana reputasi serta rekam jejak mereka dalam menangani penawaran saham sebelumnya. Underwriter yang kredibel biasanya akan menentukan harga IPO yang wajar dan mendistribusikan saham secara transparan.3. Penggunaan Dana Hasil IPO
Investor juga bisa mencermati secara perinci rencana penggunaan dana hasil IPO. Alokasi dana yang jelas dan diarahkan untuk mendukung ekspansi usaha, peningkatan kapasitas produksi, atau penguatan bisnis inti akan menjadi sinyal positif dibandingkan perusahaan yang tidak memiliki arah penggunaan dana yang terukur. Skandis harus membaca prospektus dengan seksama untuk memahami bagaimana dana yang dihimpun akan digunakan—apakah untuk ekspansi, pelunasan utang, modal kerja, atau hal lainnya.4. Valuasi dan Harga Penawaran
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menekankan bahwa investor tetap perlu bersikap selektif dengan mempertimbangkan kombinasi valuasi, profitabilitas, sponsor atau ultimate beneficial owner (UBO), penggunaan dana IPO, hingga risiko likuiditas setelah saham tercatat di Bursa. Skandis perlu membandingkan harga penawaran IPO dengan valuasi perusahaan sejenis yang sudah tercatat di BEI. Apakah harga yang ditawarkan masuk akal? Apakah rasio Price to Earnings (PER) perusahaan sebanding dengan kompetitornya?5. Fundamental Perusahaan
Investor akan lebih memilih perusahaan dengan fundamental yang kuat dan prospek bisnis yang lebih terukur. Skandis perlu memeriksa:- Laporan keuangan—pendapatan, laba, pertumbuhan, dan rasio utang.
- Model bisnis—apakah bisnisnya berkelanjutan dan memiliki keunggulan kompetitif?
- Manajemen—siapa yang menjalankan perusahaan dan bagaimana rekam jejak mereka?
- Risiko bisnis—apa saja faktor yang bisa mengganggu kinerja perusahaan?



