Perkembangan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dikhawatirkan dapat memungkinkan mengambil alih dunia di masa depan. Tidak secara langsung, namun dapat dimulai dengan dunia seni dan sastra.
Dilaporkan Science Focus dan GizChina, setelah beberapa waktu mendominasi internet dengan membuat gambar AI Dall-E 2. OpenAI yang merupakan perusahaan hasil besutan Elon Musk yang secara khusus diperuntukan untuk perkembangan kecerdasan buatan kembali trending ke media sosial berkat ChatGPT. ChatGPT sendiri merupakan chatbot yang dibuat menggunakan teknologi perusahaan GPT-3.
Teknologi GPT-3 sendiri merupakan dasar dari pengembangan ChatGPT. GPT-3 sebenarnya adalah model AI pemrosesan bahasa yang dianggap tersohor di dunia internet. Lalu, apa yang membedakan dua hal itu tersebut?
Generative Pretrained Transformer 3 atau GPT-3 sendiri merupakan model AI pemrosesan bahasa canggih yang dikembangkan oleh OpenAI. Dengan model AI ini, teknologi tersebut mampu menghasilkan teks seperti pada umumnya manusia berkomunikasi, mulai menerjemahkan bahasa, pemodelan bahasa dan menghasilkan teks untuk aplikasi seperti chatbots.
Ini merupakan salah satu model AI pemrosesan bahasa terbesar dan terkuat hingga saat ini dengan 175 miliar parameter. Singkatnya, kecerdasan buatan tersebut dapat diperintah dengan kata-kata. Instruksinya bisa berupa pertanyaan, permintaan untuk sebuah tulisan tentang topik yang dipilih ataupun sejumlah besar permintaan dengan kata-kata lainnya.
Meski begitu, GPT-3 adalah model AI yang terbatas pada bahasa saja. Artinya, tidak dapat menghasilkan video, gambar, maupun suara seperti Dall-E2. Dall-E2 adalah model kecerdasan buatan yang bisa menghasilkan gambar hanya dengan perintah teks. Namun, GPT-3 justru memiliki kecanggihan luar biasa kelak tentang kata-kata yang diucapkan dan ditulis.
Dengan demikian, seiring dengan berjalannya waktu ChatGPT memiliki kemampuan yang cukup luas, mulai dari menulis puisi, menerangkan hal-hal yang ada di alam semesta, hingga menjelaskan mekanika kuantum dalam istilah sederhana atau menulis makalah dan artikel penelitian lengkap. Sejauh ini, ChatGPT memang masih terbatas jika dilakukan dengan perintah yang rumit. Namun, tidak memakan waktu yang lama untuk bertransformasi agar lebih sempurna.
Para profesor di beberapa Universitas di Amerika Serikat pun dikabarkan mulai merombak pengajaran di kelas sebagai tanggapan terhadap ChatGPT. Hal ini akan memicu perubahan besar dalam metode pengajaran. Beberapa guru besar kini mendesain ulang pembelajaran yang mereka ajarkan. Mereka sekarang membawa lebih banyak ujian lisan, tugas diskusi kelompok dan penilaian konten tulisan tangan sebagai pengganti disertasi.



