Hello Skandis!
Skandis mungkin sudah mengetahui jika moda transportasi di Indonesia terus bertumbuh dari tahun ke tahun. Bukan hanya karena tuntutan perkembangan zaman yang semakin canggih tapi tingkat kebutuhan akan transportasi massal yang ramah lingkungan, mengatasi kemacetan, dan terjangkau menjadi pertimbangan.
Agustus ini tepatnya pada tanggal 28, LRT (Light Rail Transit) atau dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai Lintas Raya Terpadu, menjadi moda transportasi paling bungsu di Indonesia. LRT diharapkan mampu menjawab kebutuhan akan transportasi publik terjangkau yang mampu memberi pilihan untuk mengurangi kemacetan dan polusi Jabodetabek yang semakin bertumbuh.
Sejarah LRT
LRT di Indonesia memiliki sejarah panjang yang tidak bisa lepas dari proyek monorel yang gagal di Jakarta. LRT menjadi moda pengganti yang dianggap lebih solutif dan beresiko rendah untuk diterapkan dan dikembangkan di Jakarta dan daerah-daerah penyangganya sebagai rute pertama LRT.
Lebih luasnya lagi LRT sendiri merupakan moda transportasi yang telah banyak dikembangkan di Eropa sejak abad ke 19. Namun penyebutan light rail transit justru bermula dari Amerika Utara yang juga menerapkan LRT di negaranya pada tahun 1972.
Pada 9 September 2015 akhirnya peletakan batu pertama LRT dilaksanakan di Jakarta. Pembangunan mulai dilakukan dan dimaksimalkan sekalipun menghadapi beberapa kendala, seperti pembebasan lahan, operasional, pandemi, hingga uji coba yang sempat mengalami tabrakan antara LRT Ciracas dan Harjamukti pada 25 Oktober 2021.
LRT dan MRT
Pernah bertanya-tanya apa perbedaan LRT dan MRT (Mass Rapid Transit). Sekilas keduanya tampak sama, kereta listrik cepat yang beroperasi di Jabodetabek.
LRT sendiri memiliki kapasitas penumpang lebih sedikit dibanding MRT. Jika MRT memiliki rute jangkauan lebih luas, maka LRT biasanya hanya beroperasi di batas kota.
Baca Juga:
- Kota Termahal di Dunia
- 5 Kota Negara Maju Yang Berhasil Bebas Dari Polusi Udara
- Bukan Jakarta, Ini 10 Kota Teraman di Dunia untuk Dikunjungi Selama 2023
Keduanya sama-sama menggunakan tenaga listrik sebagai penggerak. Hanya LRT menggunakan listrik dengan aliran bawah, sedangkan MRT dengan aliran atas. Namun keduanya sama-sama menggunakan rel sebagai lintasan.
Dalam hal kecepatan, lagi-lagi MRT memiliki laju lebih unggul dibanding LRT. MRT mampu melesat dengan kecepatan 100 km per jam sedangkan LRT rata-rata hanya 50 km per jam.
Wilayah Operasi
Untuk saat ini Indonesia memiliki dua wilayah operasi LRT, yaitu Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi) dan Palembang.
LRT yang mampu menampung 600 penumpang dalam sekali jalan ini kedepannya akan diaplikasikan di kota-kota besar lainnya di Indonesia, seperti Bandung, Surabaya, Medan, Makasar, dan Bali.
Nah Semoga bermanfaat yah Skandis!



