Gunawan, seorang pensiunan guru, menikmati masa pensiunnya dengan aktif bersosialisasi dan mendapatkan penghasilan dari uang sewa rumah kontrakan. Begitu juga dengan temannya, Rudi, yang selain mendapatkan uang pensiun dan sewa kontrakan, juga tetap produktif dengan berkebun dan berjualan kecil-kecilan.
Lain lagi dengan Linda, saudara perempuan penulis, yang sudah mempersiapkan aset propertinya jauh sebelum pensiun, membuatnya memiliki banyak sumber pendapatan. Namun, penulis menyadari satu hal penting dari mereka bertiga: mengelola passive income itu sama pentingnya dengan cara mendapatkannya.
—
Hello Skandis!
Mendengar kata “passive income” mungkin langsung mengingatkan kita pada mimpi punya pendapatan yang terus mengalir meskipun kita sudah tidak aktif bekerja. Siapa sih yang tidak mau jalan-jalan, menikmati masa pensiun, tapi uang tetap mengalir ke rekening? Mimpi ini nyata, tapi butuh persiapan yang matang.
Sebab, suatu hari kita pasti akan pensiun atau mungkin tidak bisa bekerja sekuat dulu. Di sinilah passive income menjadi sangat krusial. Ini bukan tentang uang yang datang dari bisnis MLM yang mungkin tidak berkelanjutan, melainkan dari aset nyata yang sudah Skandis bangun. Mari kita lihat beberapa contoh nyata dan bagaimana kita bisa belajar dari mereka.



