Ketika Wall Street Berbicara, Pasar Mendengarkan
Dalam dunia investasi, tidak ada yang lebih berpengaruh daripada proyeksi dari bank-bank investasi global. Ketika Goldman Sachs, JPMorgan, dan Bank of America berbicara tentang harga emas, pasar mendengarkan—dan sering kali bereaksi. Di tahun 2026, proyeksi-proyeksi ini menjadi semakin penting di tengah volatilitas yang ekstrem dan ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan. Setelah harga emas dunia mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$5.500 per ons pada Januari 2026[reference:30], para analis di Wall Street berlomba-lomba merevisi target harga mereka. Namun, seiring dengan koreksi yang terjadi pada pertengahan tahun[reference:31], banyak dari mereka kembali memangkas proyeksi. Artikel ini akan mengupas tuntas proyeksi terbaru dari bank-bank investasi terbesar dunia, serta implikasinya bagi Skandis.Proyeksi Terbaru Bank-Bank Investasi Global
Berikut adalah rangkuman proyeksi harga emas dari bank-bank investasi terkemuka dunia per pertengahan 2026:| Bank/Lembaga | Target Harga | Periode | Status |
|---|---|---|---|
| Goldman Sachs | US$4.900/ons | Akhir 2026 | Direvisi turun dari US$5.400[reference:32] |
| JPMorgan | US$4.500/ons (Q4 2026) | Kuartal IV 2026 | Direvisi turun dari US$6.000[reference:33] |
| Bank of America | US$4.360/ons (rata-rata 2026) | Tahun 2026 | Direvisi turun 14%[reference:34] |
| UBS | US$6.200/ons | Maret-September 2026 | Paling bullish[reference:35] |
| Wells Fargo | US$5.400–6.300/ons | Akhir 2026 | Bullish[reference:36] |
| Deutsche Bank | US$5.500/ons | 2026 | Bullish[reference:37] |
| ANZ | US$5.600/ons | 2026 | Bullish[reference:38] |
| Morgan Stanley | US$4.600/ons | 2026 | Konservatif[reference:39] |
Goldman Sachs: Dari Optimisme ke Kehati-hatian
Goldman Sachs menjadi salah satu institusi yang paling konsisten dalam memperbarui proyeksi harga emas. Pada Februari 2026, Goldman Sachs memperkirakan harga emas dapat mencapai 5.400 dollar AS per ons pada akhir 2026, meningkat signifikan dari estimasi sebelumnya di 4.900 dollar AS per ons[reference:40]. Bank tersebut menegaskan bahwa “emas tetap menjadi rekomendasi beli jangka panjang kami yang paling meyakinkan”[reference:41]. Namun, pada Juni 2026, Goldman Sachs memangkas target akhir tahunnya sebesar US$500 menjadi US$4.900 per ons[reference:42]. Meskipun demikian, bank tersebut tetap mempertahankan pandangan struktural yang konstruktif terhadap harga emas, dengan mengatakan bahwa mereka “secara taktis waspada” terhadap risiko jangka pendek namun melihat risiko kenaikan dalam jangka menengah[reference:43]. Goldman Sachs mendasarkan proyeksinya pada permintaan yang kuat dari bank-bank sentral di negara-negara berkembang serta tren diversifikasi cadangan devisa global[reference:44]. Bank tersebut juga menyatakan bahwa jika investor swasta meningkatkan alokasi dari obligasi AS ke emas, harga dapat naik lebih tinggi lagi—bahkan mendekati 5.000 dollar AS per ons jika 1 persen dari dana swasta yang diinvestasikan dalam obligasi pemerintah AS dialokasikan kembali ke emas[reference:45].JPMorgan: Revisi Drastis dari US$6.000 ke US$4.500
JPMorgan mungkin menjadi bank dengan revisi proyeksi yang paling dramatis. Pada 9 Juni 2026, JPMorgan memberi tahu kliennya bahwa emas akan mencapai US$6.000 per ons pada akhir tahun[reference:46]. Namun, hanya 24 hari kemudian, bank yang sama memangkas target tersebut sebesar 25% menjadi US$4.500[reference:47]. Revisi ini dipicu oleh permintaan yang lebih lemah dari perkiraan dari para pembeli utama serta risiko kenaikan suku bunga yang lebih cepat oleh The Fed[reference:48]. JPMorgan kini memproyeksikan emas akan diperdagangkan di kisaran US$4.300 per ons pada kuartal III 2026 dan naik menjadi sekitar US$4.500 per ons pada kuartal IV 2026[reference:49]. Meskipun demikian, JPMorgan tetap mempertahankan pandangan positif (bullish) untuk jangka panjang. Bank tersebut memperkirakan harga emas akan kembali melanjutkan kenaikan mulai 2027, didukung oleh permintaan yang tetap kuat dari bank-bank sentral serta akumulasi cadangan devisa secara struktural[reference:50].Bank of America: 2026 Bisa Menjadi “Tahun yang Hilang”
Bank of America (BofA) mengambil sikap yang lebih hati-hati. Pada awal Juli 2026, BofA memangkas rata-rata perkiraan harga emas untuk 2026 sebesar 14 persen menjadi US$4.360 per ons, dengan alasan sikap The Fed yang lebih hawkish (cenderung menaikkan suku bunga)[reference:51][reference:52]. Bahkan, BofA menggambarkan 2026 sebagai “lost year” (tahun yang hilang) bagi emas, dengan imbal hasil riil yang lebih tinggi, dolar yang lebih kuat, dan perubahan ekspektasi Federal Reserve yang membatasi potensi kenaikan[reference:53]. Jika 2026 terbukti menjadi puncak siklus besar logam kuning seperti yang terjadi pada periode sebelumnya (1980 dan 2011), BofA memperkirakan harga berpotensi turun menuju sekitar US$3.315 per ons[reference:54]. Namun demikian, BofA tetap melihat potensi upside jangka panjang. Bank riset tersebut menyatakan bahwa harga US$5.000 per ons masih dapat dicapai begitu siklus pengetatan The Fed berakhir[reference:55].UBS: Proyeksi Paling Bullish
Di tengah revisi turun yang dilakukan oleh banyak bank, UBS justru menjadi salah satu bank dengan proyeksi paling agresif. UBS menaikkan target harga emas menjadi US$6.200 per ons atau setara sekitar Rp104,41 juta untuk periode Maret hingga September 2026[reference:56]. Bank asal Swiss ini optimis bahwa kombinasi faktor struktural—termasuk pembelian bank sentral dan ketidakpastian geopolitik—akan terus mendorong harga emas ke level yang lebih tinggi.Mengapa Target Harga Berubah Drastis?
Perubahan target harga yang drastis dari bank-bank investasi global mencerminkan tingginya ketidakpastian di pasar saat ini. Beberapa faktor utama yang menyebabkan revisi ini antara lain:



