Sensus Ekonomi 2026: Data Baru untuk Peta Ekonomi Kreatif Indonesia
Sensus Ekonomi 2026 menjadi basis data pengembangan ekonomi kreatif nasional. Simak dampaknya bagi kebijakan dan UMKM.Mengapa Sensus Ekonomi 2026 Begitu Penting?
Ekonomi kreatif Indonesia terus berkembang menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Kemajuan teknologi digital mendorong lahirnya berbagai usaha baru di berbagai subsektor kreatif, mulai dari kuliner, fesyen, kriya, musik, film, hingga konten digital. Namun, perkembangan ekonomi kreatif belum berlangsung merata. Sebagian besar aktivitas masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Bali. Di sinilah urgensi Sensus Ekonomi 2026 menjadi sangat krusial. Pemerintah membutuhkan data yang lebih lengkap untuk mengetahui karakteristik pelaku usaha di setiap wilayah. Data yang akurat adalah fondasi bagi kebijakan yang tepat sasaran.Apa Itu Sensus Ekonomi 2026 dan Bagaimana Pelaksanaannya?
Sensus Ekonomi 2026 diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memperoleh gambaran terbaru mengenai kondisi perekonomian nasional, termasuk perkembangan sektor ekonomi kreatif. Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, Sensus Ekonomi 2026 tidak hanya mendata pelaku usaha, tetapi juga mencakup kondisi ekonomi rumah tangga sebagai bagian dari ekosistem perekonomian nasional. Sensus ini mulai berjalan pada bulan Juni sampai akhir Agustus 2026, melibatkan sekitar 251 ribu petugas sensus resmi dari BPS. BPS juga memastikan data responden dijaga kerahasiaannya dan bukan untuk kepentingan perpajakan, serta memanfaatkan teknologi AI untuk meningkatkan akurasi dan kualitas pendataan.Ekonomi Kreatif: Kontribusi yang Terus Meningkat

- Kontribusi terhadap PDB pada 2024 mencapai Rp1.611,2 triliun atau 7,28% dari PDB Nasional.
- Penyerapan tenaga kerja pada 2025 mencapai 27,4 juta orang atau 18,70% dari total penduduk bekerja.
- Sektor fesyen memberikan kontribusi sebesar 14,77% terhadap PDB ekonomi kreatif pada tahun 2025, dan menyumbang 58,55% dari total ekspor ekonomi kreatif pada Januari–April 2026.
- Pada Triwulan I-2026, sektor ekraf mencatatkan investasi 47% dari target Rp146 Triliun dan ekspor tembus USD 9,99 Miliar per April 2026 atau 35% dari target.



