Hello Skandis! Surat Berharga Negara atau yang lebih dikenal sebagai SBN adalah produk investasi yang diterbitkan dan dijamin oleh pemerintah Republik Indonesia. SBN ritel dibuat dengan tujuan untuk memberi kesempatan buat masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembiayaan pembangunan negara. Analogi gampangnya, Skandis sebagai masyarakat meminjamkan sejumlah dana ke pemerintah dalam kurun waktu tertentu.
Nah, pada saat jatuh tempo, pemerintah akan mengembalikan dana Skandis secara penuh. Setiap bulannya, Skandis juga akan menerima imbal hasil berupa bunga ke rekening Skandis. Ada beberapa jenis SBN yang wajib kamu tahu.
Secara umum, SBN terdiri dari dua jenis, yaitu yang bersifat konvensional dan syariah. Berdasarkan kategori tersebut, SBN juga terbagi lagi berdasarkan imbal hasilnya, yaitu fixed rate dan floating rate. Buat Skandis yang butuh investasi aman, terjangkau, mudah, dan menguntungkan, kamu harus investasi SBN.
Apa saja perbedaannya? Yuk Skandis, kita simak penjelasan dari masing-masing jenis SBN berikut!
Peluncuran ORI bertujuan untuk memberi kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk membeli langsung Obligasi Negara (Surat Utang). Berbeda halnya dengan SBR, ORI dapat dijual kembali di pasar sekunder. Oleh karena itu, ketika Skandis jual kepemilikan ORI milikmu, Skandis bisa mendapatkan potensi capital gain atau loss. Akan tetapi, capital gain atau loss tidak akan terjadi kalau Skandis tidak menjual kepemilikan ORI alias memegang sampai jatuh tempo yang telah ditentukan. Skandis dapat membeli ORI dengan minimal kecil, mulai dari Rp1 juta—maksimal Rp2 miliar.
Produk ST mirip dengan SBR, namun pengelolaannya dengan prinsip syariah. Dalam penerbitan kepemilikan aset negara sebagai underlying asset atau aset dasar ST, terdapat akad (perjanjian atau kesepakatan) yang tidak terdapat pada SBN konvensional. Investor perseorangan dapat membeli ST pada mitra distribusi dengan minimal pembelian Rp1 juta—maksimal Rp2 miliar. Sama seperti SBR, Skandis tidak dapat menjual kepemilikan ST-Skandis di pasar sekunder.
Nah, gimana temanduit? Setelah mengetahui jenis-jenis SBN yang pemerintah rilis, kamu minat untuk beli salah satunya nggak nih? Eits, tapi, kamu hanya bisa beli SBN pada saat masa penawarannya saja, ya.
Jenis SBN Berdasarkan Prinsip Pengelolaannya
Produk SBN yang dikelola secara konvensional dapat disebut sebagai surat utang. Skandis akan menerima bunga secara bulanan dan pemerintah akan membayar pokoknya di akhir periode. Berbeda dengan jenis SBN yang sifatnya syariah, dana yang Skandis berikan akan tercatat sebagai penyertaan terhadap aset negara. Masyarakat yang membeli produk SBN syariah memiliki kepemilikan aset berwujud yang akan disewakan kepada pemerintah. Pemerintah akan membayar uang sewa (ujrah) tersebut sebagai imbal hasil rutin bagi para investor.1. Konvensional
Jenis SBN yang pengelolaannya secara konvensional, yaitu:1.1 Savings Bond Ritel (SBR)
Sesuai dengan namanya, yaitu savings, produk ini mirip dengan tabungan atau deposito bank. Skandis tidak dapat menjual kembali kepemilikan SBR Skandis di pasar sekunder. Namun, Skandis dapat mengajukan pencairan sebelum jatuh tempo (early redemption) sebesar maksimal 50% dari total kepemilikan SBR Skandis. Tenor atau jatuh tempo dari SBR adalah 2 tahun. Skandis dapat mulai berinvestasi SBR mulai dari Rp1 juta—Rp2 miliar.1.2 Obligasi Negara Ritel Indonesia (ORI)
Peluncuran ORI bertujuan untuk memberi kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk membeli langsung Obligasi Negara (Surat Utang). Berbeda halnya dengan SBR, ORI dapat dijual kembali di pasar sekunder. Oleh karena itu, ketika Skandis jual kepemilikan ORI milikmu, Skandis bisa mendapatkan potensi capital gain atau loss. Akan tetapi, capital gain atau loss tidak akan terjadi kalau Skandis tidak menjual kepemilikan ORI alias memegang sampai jatuh tempo yang telah ditentukan. Skandis dapat membeli ORI dengan minimal kecil, mulai dari Rp1 juta—maksimal Rp2 miliar.
2. Syariah
Jenis SBN yang dikelola dengan prinsip syariah, yaitu:2.1 Sukuk Tabungan (ST)
Produk ST mirip dengan SBR, namun pengelolaannya dengan prinsip syariah. Dalam penerbitan kepemilikan aset negara sebagai underlying asset atau aset dasar ST, terdapat akad (perjanjian atau kesepakatan) yang tidak terdapat pada SBN konvensional. Investor perseorangan dapat membeli ST pada mitra distribusi dengan minimal pembelian Rp1 juta—maksimal Rp2 miliar. Sama seperti SBR, Skandis tidak dapat menjual kepemilikan ST-Skandis di pasar sekunder.
2.2 Sukuk Ritel Indonesia (SR atau Sukri)
Sukuk ritel yang lebih populer disebut SR atau Sukri secara umum mirip dengan ORI. Sebagai salah satu produk syariah, SR juga membutuhkan akad. Sama seperti ORI, Skandis dapat memperjualbelikan kepemilikan SR-Skandis di pasar sekunder sehingga Skandis berpotensi mendapatkan capital gain atau capital loss ketika menjual kepemilikan SR-Skandis di pasar sekunder. Skandis dapat membeli SR mulai dari nominal Rp1 juta.
Jenis SBN Berdasarkan Imbal Hasilnya
Imbal hasil dari SBN terbagi menjadi dua jenis, yaitu fixed rate dan floating rate with floor.Fixed Rate
Fixed rate merupakan jenis imbal hasil yang kuponnya tetap dari awal sampai jatuh tempo (selama 3 tahun). Misalnya kupon yang ditetapkan senilai 5,7 % per tahun, dan imbal hasilnya akan Skandis terima setiap bulan. Nilai kupon tersebut tetap pada angka 5,7 % per tahun dari awal sampai jatuh tempo. SBN yang imbal hasilnya fixed rate adalah ORI dan SR. Imbal hasil fixed rate ini sangat bermanfaat bagi investor untuk menghindari perubahan tingkat suku bunga market. Jadi, Skandis nggak perlu takut di kala tingkat suku bunga turun, kupon yang Skandis terima nggak akan turun, tapi tetap sama.Floating with floor
Floating rate merupakan jenis imbal hasil yang kuponnya bisa berubah sesuai dengan perubahan tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI 7 Day RR Rate). Bagaimana kalau suku bunga BI anjlok banget? Tenang aja, Skandis! Makanya, terdapat fitur floating rate with floor alias dari awal penerbitannya, pemerintah menetapkan kupon saat itu sebagai batas minimum kuponnya. Jadi, misalnya suku bunga BI naik, maka imbal hasil kamu akan naik juga. Sementara itu, kalau suku bunga BI turun, imbal hasil yang kamu dapat akan tetap berada di batas minimum tersebut. Tentunya oke banget kan karena imbal hasilnya bisa naik, tapi nggak bisa turun. SBN yang imbal hasilnya floating rate adalah SBR dan ST. Sebagai rangkuman, kamu bisa lihat di tabel berikut, ya, biar kita semua gampang ingetnya.| Fixed Rate | Floating Rate | |
| Konvensional | ORI | SBR |
| Syariah | SR atau Sukri | ST |



