1. Semakin Cepat, Semakin Baik—Tapi Jangan Asal Mulai
Sebenarnya, dari segi waktu, semakin cepat Skandis memulai investasi, semakin baik hasilnya di masa depan. Ini karena efek *compounding* atau bunga berbunga yang bisa membuat dana Skandis tumbuh signifikan dalam jangka panjang. Misalnya, mulai investasi Rp500.000 per bulan di usia 23 tahun bisa memberikan hasil jauh lebih besar dibanding memulainya di usia 30, walaupun jumlah investasinya sama. Tapi bukan berarti Skandis harus buru-buru investasi tanpa persiapan. Keuangan pribadi itu ibarat bangunan, kalau fondasinya belum kuat, jangan dulu membangun lantai atasnya.2. Cek Dulu Kondisi Keuangan Skandis!
Sebelum mulai investasi, pastikan Skandis sudah memiliki tiga hal penting ini:- Dana Darurat: Idealnya, Skandis sudah memiliki dana darurat minimal 3–6 bulan pengeluaran. Ini sangat penting agar jika ada hal-hal tak terduga seperti sakit atau kehilangan pekerjaan, Skandis tidak perlu menarik aset investasi di saat yang tidak menguntungkan.
- Bebas Utang Konsumtif: Utang seperti cicilan kartu kredit atau pinjaman online dengan bunga tinggi bisa menggerogoti keuangan Skandis. Sebaiknya, lunasi dulu utang konsumtif sebelum Skandis mengalokasikan uang untuk investasi.
- Arus Kas Positif: Pastikan Skandis punya *cash flow* bulanan yang positif, alias penghasilan lebih besar dari pengeluaran. Jika situasinya masih “gali lubang tutup lubang”, sebaiknya bereskan dulu pola pengeluaran Skandis sebelum memulai investasi.



