Dari Glodok hingga Ancol: 5 Klenteng Bersejarah di Jakarta yang Jadi Magnet Wisata Imlek
Perayaan Tahun Baru Imlek bukan hanya momentum ibadah dan tradisi keluarga, tetapi juga waktu terbaik untuk menelusuri jejak sejarah panjang akulturasi budaya di Jakarta. Di balik kemeriahan lampion merah dan tabuhan barongsai, sejumlah klenteng tua di Ibu Kota menyimpan kisah perdagangan, pelayaran, perjuangan, hingga harmoni lintas agama yang telah terjalin ratusan tahun. Berikut lima klenteng bersejarah di Jakarta yang tidak hanya menjadi destinasi spiritual saat Imlek, tetapi juga saksi bisu perjalanan komunitas Tionghoa di Nusantara.1. Klenteng Kim Tek Ie / Vihara Dharma Bhakti, Jejak Tertua di Glodok
Didirikan pada tahun 1650, Klenteng Kim Tek Ie atau yang kini dikenal sebagai Vihara Dharma Bhakti merupakan klenteng tertua di Jakarta. Berlokasi di Jl. Kemenangan III No. 13, Petak Sembilan, Glodok, tempat ini menjadi pusat spiritual sekaligus simbol sejarah panjang komunitas Tionghoa di Batavia.
Klenteng ini awalnya bernama Kwan Im Teng dan dibangun oleh Kwee Hoen, seorang Letnan Tionghoa. Nama “Kim Tek Ie” sendiri bermakna “kebajikan emas”, mengingatkan umat untuk menjunjung nilai moral di atas materialisme.
- Menyimpan patung-patung Buddha kuno dan artefak bersejarah.
- Menjadi pusat ibadah utama saat Imlek dan Cap Go Meh.
- Berada di kawasan Pecinan legendaris Jakarta.
2. Klenteng Ancol / Vihara Bahtera Bakti, Penjaga Pesisir Utara
Berlokasi sekitar 200 meter dari bibir pantai Ancol, Vihara Bahtera Bakti memiliki hubungan erat dengan sejarah pelayaran dan komunitas maritim Tionghoa. Klenteng ini dahulu bernama Da Bo Gong, dewa pelindung laut yang dipuja para pelaut sejak Dinasti Song.
Diperkirakan berdiri sekitar tahun 1650, klenteng ini termasuk salah satu yang tertua di Jakarta. Letaknya yang dekat laut memperkuat identitasnya sebagai tempat memohon keselamatan pelayaran.
- Simbol perlindungan bagi pelaut dan pedagang.
- Mencerminkan sejarah perdagangan Batavia.
- Menjadi destinasi spiritual sekaligus wisata budaya.
3. Klenteng Lupan / Vihara Lu Ban, Warisan Para Tukang Kayu
Terletak di Jl. Pinangsia I, dekat kawasan LTC Glodok, Klenteng Lupan dibangun oleh serikat tukang kayu asal Guangdong pada abad ke-19. Tempat ini didedikasikan untuk Lu Ban Gong, dewa pelindung para tukang kayu dan pengrajin.
Keberadaan klenteng ini menjadi bukti nyata kontribusi perantau Tiongkok dalam pembangunan arsitektur dan kerajinan kayu di Nusantara.
- Melambangkan keterampilan dan kerja keras.
- Menjadi simbol warisan keahlian tradisional lintas generasi.
- Mencerminkan akulturasi budaya dalam dunia pertukangan.
4. Klenteng Shia Djin Kong, Simbol Harmoni di Tengah Keberagaman
Dibangun pada tahun 1944 oleh Tung Djie Wie, seorang tabib pengobatan tradisional Tionghoa, Klenteng Shia Djin Kong berdiri di kawasan dengan mayoritas penduduk beragama Islam.
Yang menarik, sebagian keturunan pendirinya yang kini memeluk Islam tetap turut menjaga dan mengelola klenteng ini. Fakta ini menjadikannya simbol nyata toleransi dan harmoni antarumat beragama di Jakarta.
- Melambangkan keberagaman yang hidup berdampingan.
- Menjadi contoh nyata semangat toleransi.
- Memiliki nilai sosial dan historis yang kuat.
5. Klenteng Tan Sing Ong / Vihara Tanda Bakti, Saksi Perjuangan Geger Pecinan
Dibangun pada tahun 1756, Klenteng Tan Sing Ong atau Vihara Tanda Bakti berdiri sebagai pengingat tragedi Geger Pecinan pada 1740, ketika ribuan etnis Tionghoa menjadi korban pembantaian oleh VOC.
Tempat ibadah ini menjadi simbol perlawanan dan solidaritas antara komunitas Tionghoa dan masyarakat Jawa dalam Perang Sepanjang (1740–1743).
- Simbol perjuangan dan ketahanan komunitas Tionghoa.
- Ruang penghormatan terhadap sejarah kelam Batavia.
- Menjadi pusat ibadah sekaligus monumen sejarah.



