Mulai Berlaku! Benarkah Biodiesel B50 Bikin Mobil Diesel Lebih Boros? Ini Penjelasan Ahlinya
Pemerintah mulai menerapkan penggunaan biodiesel B50 secara bertahap mulai Juli 2026 sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Kebijakan ini pun memunculkan berbagai pertanyaan di kalangan pemilik kendaraan bermesin diesel, terutama mengenai dampaknya terhadap performa mesin dan konsumsi bahan bakar.
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah apakah penggunaan biodiesel B50 dapat membuat konsumsi BBM menjadi lebih boros dibandingkan biodiesel B35 yang sebelumnya digunakan. Mengingat kandungan biodiesel pada B50 lebih tinggi, banyak pemilik kendaraan yang khawatir jarak tempuh kendaraan akan berkurang dalam setiap kali pengisian bahan bakar.
Lantas, benarkah anggapan tersebut? Berikut penjelasan para ahli mengenai pengaruh biodiesel B50 terhadap efisiensi konsumsi BBM mobil diesel.
Apa Itu Biodiesel B50?
Biodiesel B50 merupakan bahan bakar diesel yang terdiri dari campuran sekitar 50 persen biodiesel berbasis Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan 50 persen solar. Program ini merupakan kelanjutan dari kebijakan B35 yang sebelumnya telah diterapkan di Indonesia.
Penambahan kandungan biodiesel bertujuan untuk meningkatkan penggunaan energi ramah lingkungan, mendukung industri kelapa sawit nasional, serta mengurangi impor bahan bakar minyak.
Meski menawarkan berbagai manfaat dari sisi lingkungan dan ketahanan energi, peningkatan kandungan FAME juga membawa karakteristik bahan bakar yang sedikit berbeda dibandingkan solar konvensional.
Mengapa konsumsi BBM berpotensi lebih boros?
Menurut Jayan Sentanuhady, dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM), penggunaan biodiesel B50 secara teori memang dapat membuat konsumsi bahan bakar sedikit meningkat.
Hal tersebut disebabkan oleh kandungan FAME yang memiliki nilai kalor (heating value) yang lebih rendah dibandingkan dengan solar murni. Nilai kalor merupakan jumlah energi yang dihasilkan saat bahan bakar dibakar di dalam mesin.
Semakin rendah nilai kalor suatu bahan bakar, semakin banyak volume bahan bakar yang dibutuhkan untuk menghasilkan tenaga yang sama.
Dengan kata lain, mesin membutuhkan sedikit lebih banyak bahan bakar agar mampu menghasilkan performa yang setara dengan penggunaan bahan bakar yang memiliki kandungan energi lebih tinggi.
Perbedaan Nilai Kalor Menjadi Faktor Utama
Peningkatan komposisi biodiesel dari B35 menjadi B50 membuat kandungan FAME dalam bahan bakar semakin besar. Karena FAME memiliki energi per liter yang lebih rendah dibandingkan solar, maka efisiensi pembakaran secara teori ikut mengalami sedikit penurunan.
Akibatnya, jarak tempuh kendaraan dalam setiap liter bahan bakar berpotensi sedikit berkurang dibandingkan saat menggunakan B35.
Namun demikian, perbedaannya diperkirakan tidak terlalu signifikan dalam penggunaan sehari-hari, terutama apabila kendaraan telah dirancang untuk mendukung penggunaan biodiesel dengan kadar yang lebih tinggi.
Teknologi Mesin Menjadi Penentu Utama
Iwan, pemilik bengkel Iwan Honda Auto Solo, juga menyampaikan bahwa secara teori penggunaan biodiesel B50 memang dapat menyebabkan konsumsi BBM sedikit lebih boros karena nilai kalor yang lebih rendah.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dampak tersebut sangat bergantung pada kesiapan teknologi mesin yang digunakan oleh masing-masing pabrikan kendaraan.
Apabila produsen kendaraan telah melakukan pengembangan sistem pembakaran, penyemprotan bahan bakar, serta kalibrasi mesin yang disesuaikan dengan karakteristik biodiesel B50, maka potensi peningkatan konsumsi BBM dapat diminimalkan.
Artinya, kendaraan diesel generasi terbaru yang telah dipersiapkan untuk penggunaan biodiesel berkadar tinggi kemungkinan tidak akan mengalami penurunan efisiensi yang terlalu terasa oleh penggunanya.
Apakah Biodiesel B50 Aman untuk Mesin?
Selain persoalan konsumsi BBM, banyak pemilik kendaraan juga mempertanyakan keamanan biodiesel B50 terhadap komponen mesin diesel.
Pada dasarnya, keamanan penggunaan biodiesel sangat bergantung pada spesifikasi kendaraan dan rekomendasi dari masing-masing pabrikan. Produsen kendaraan umumnya telah melakukan berbagai pengujian sebelum menyatakan kompatibilitas mesin terhadap campuran biodiesel tertentu.
Oleh karena itu, pemilik kendaraan disarankan untuk selalu mengikuti panduan penggunaan bahan bakar sesuai buku manual kendaraan serta melakukan perawatan berkala agar performa mesin tetap optimal.
Kesimpulan
Secara teori, penggunaan biodiesel B50 memang berpotensi membuat konsumsi BBM mobil diesel menjadi sedikit lebih boros dibandingkan B35. Penyebab utamanya adalah kandungan FAME yang memiliki nilai kalor lebih rendah sehingga membutuhkan volume bahan bakar lebih banyak untuk menghasilkan tenaga yang sama.
Namun, dampak tersebut diperkirakan tidak akan terlalu besar apabila kendaraan telah dilengkapi teknologi mesin yang memang dirancang untuk mendukung penggunaan biodiesel B50. Bagi Skandis yang menggunakan mobil diesel, tidak perlu khawatir secara berlebihan. Yang terpenting adalah selalu menggunakan bahan bakar sesuai rekomendasi pabrikan dan menjaga kondisi kendaraan melalui servis berkala agar performa mesin tetap maksimal.