Agentic AI: Teknologi yang Akan Meledak di Bisnis Indonesia 2026–2028
Agentic AI diproyeksikan sebagai teknologi dengan pertumbuhan adopsi tercepat di Indonesia dalam tiga tahun ke depan. Pahami definisi, potensi, dan cara memulainya dengan tepat sebelum pesaing Skandis melesat lebih dulu.Pendahuluan: Dari Generative AI ke Agentic AI
Jika tahun 2023–2025 adalah era generative AI—di mana kita kagum pada kemampuan ChatGPT dan Gemini dalam menghasilkan teks dan gambar—maka 2026 adalah awal dari babak baru: Agentic AI. Teknologi ini tidak hanya menghasilkan output, tetapi juga mampu bernalar, mengambil keputusan, dan menjalankan tugas secara otonom[reference:26]. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyebut Agentic AI sebagai salah satu tren terpenting dalam transformasi digital saat ini[reference:27]. Di Indonesia, 66% perusahaan berencana untuk memperdalam fokus mereka pada agentic AI dalam waktu dekat[reference:28][reference:29]. Lalu, apa sebenarnya Agentic AI, dan mengapa Skandis perlu memperhatikannya?Apa Itu Agentic AI?
Agentic AI adalah sistem kecerdasan buatan yang dirancang untuk bertindak sebagai “agen” otonom. Berbeda dengan chatbot konvensional yang hanya merespons perintah, agen AI dapat:- Memahami tujuan kompleks dan memecahnya menjadi langkah-langkah kecil.
- Mengakses berbagai sistem dan basis data untuk mengumpulkan informasi.
- Mengambil keputusan berdasarkan data real-time.
- Menjalankan tugas secara mandiri tanpa intervensi manusia.
Mengapa Agentic AI Akan Meledak di Indonesia?
1. Tingkat Adopsi AI yang Tinggi, tetapi Belum Strategis
Menariknya, tingkat adopsi AI di Indonesia telah mencapai 92% pada Februari 2026[reference:32]. Namun, pemanfaatannya masih didominasi penggunaan individual dan belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam sistem inti organisasi[reference:33]. Di sinilah Agentic AI berperan: menjembatani kesenjangan antara penggunaan personal dan adopsi di tingkat perusahaan.2. Dukungan Pemain Global dan Lokal
Raksasa teknologi seperti Google Cloud, Tencent Cloud, dan Salesforce berlomba-lomba menghadirkan solusi Agentic AI ke Indonesia. Google Cloud, melalui Gemini Enterprise, memperkenalkan visi strategisnya untuk mempercepat transformasi agentic AI di tanah air[reference:34][reference:35]. Tencent Cloud meluncurkan AI agent suite yang mencakup WorkBuddy dan Miora untuk otomatisasi workflow perkantoran[reference:36]. Salesforce bahkan menyelenggarakan Agentforce World Tour Jakarta 2026 untuk menunjukkan bagaimana perusahaan Indonesia dapat membangun agentic future[reference:37].3. Kebutuhan akan Efisiensi di Tengah Tekanan Ekonomi
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perusahaan dituntut untuk beroperasi lebih efisien. Agentic AI memungkinkan otomatisasi tugas-tugas kompleks yang sebelumnya membutuhkan tim besar—mulai dari analisis data, pelaporan, hingga koordinasi lintas departemen.Studi Kasus: Implementasi Agentic AI di Indonesia
Beberapa perusahaan besar telah memulai perjalanan agentic AI mereka:
- J&T Express bekerja sama dengan Tencent Cloud untuk mengimplementasikan WorkBuddy guna mengotomatisasi alur kerja perkantoran sehari-hari, menghasilkan laporan berbasis data, dan menyederhanakan koordinasi internal di seluruh operasi regional[reference:38].
- PT Bank CIMB Niaga bermitra dengan Google Cloud dan Artefact untuk meluncurkan purpose-built AI agents yang membantu staf perbankan dalam menyusun rekomendasi investasi dan melayani nasabah secara lebih cepat[reference:39][reference:40].
- Grab Indonesia melaporkan bahwa asisten AI-nya telah digunakan lebih dari satu juta kali oleh para pedagang dalam waktu kurang dari lima bulan, dengan 59,2% pedagang baru GrabFood aktif menggunakan fitur tersebut[reference:41].
Potensi dan Proyeksi Adopsi Agentic AI 2026–2028
IDC memperkirakan bahwa 80% kasus penggunaan agen AI akan membutuhkan data yang real-time, kontekstual, dan mudah diakses[reference:42][reference:43]. Artinya, perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan model AI pintar, tetapi juga membutuhkan infrastruktur data yang mampu menopang pengambilan keputusan secara cepat dan konsisten. Di Indonesia, proyeksi pertumbuhan adopsi agentic AI sangat tinggi. Penggunaan Codex di Indonesia, misalnya, tumbuh 12 kali lipat sejak awal 2026—lebih tinggi dari pertumbuhan global yang hanya 8 kali lipat[reference:44]. Ini menunjukkan bahwa pasar Indonesia sangat responsif terhadap teknologi AI generasi berikutnya.Tantangan yang Harus Diwaspadai
Meskipun prospeknya cerah, implementasi agentic AI bukannya tanpa tantangan:- Kesiapan Data: Banyak perusahaan masih memiliki data yang tersebar di berbagai unit bisnis dan sistem warisan (legacy system)[reference:45].
- Tata Kelola dan Keamanan: ISACA mengidentifikasi empat area risiko emerging: keamanan agen, tanggung jawab organisasi, integritas data, dan kesenjangan antara ambisi AI dengan kesiapan tata kelola[reference:46].
- Kesenjangan Keterampilan: Hanya 33% knowledge workers di Indonesia yang mengatakan bahwa perusahaan mereka memberikan pelatihan tentang cara menggunakan agen AI[reference:47].



