Apakah Kita Menuju Kepunahan Massal? Ilmuwan Buka Fakta Mengejutkan tentang Zaman Antroposen
Ketika membicarakan kepunahan massal, ingatan kita hampir selalu kembali pada dinosaurus—makhluk raksasa yang musnah akibat hantaman asteroid sekitar 66 juta tahun lalu. Peristiwa tersebut memicu kebakaran global, tsunami raksasa, dan perubahan iklim drastis yang memusnahkan lebih dari 75 persen spesies di Bumi. Namun, tahukah bahwa peristiwa itu bukan satu-satunya? Sepanjang sejarah geologisnya, Bumi telah mengalami sedikitnya lima kepunahan massal besar. Kini, sejumlah ilmuwan percaya bahwa kita mungkin sedang hidup di tengah kepunahan massal berikutnya—yang dikenal sebagai Kepunahan Holosen. Yang membuatnya berbeda? Jika dahulu asteroid dan letusan gunung berapi menjadi penyebab utama, kali ini aktivitas manusialah yang diduga menjadi faktor dominan.1. Apa Itu Kepunahan Massal?
Menurut definisi yang dikutip dari National Geographic, kepunahan massal terjadi ketika setidaknya 75 persen spesies di Bumi punah dalam waktu relatif singkat secara geologis. Dalam kondisi normal, kepunahan adalah bagian alami dari evolusi. Biasanya, satu dari setiap 10.000 spesies punah setiap abad. Namun, dalam periode kepunahan massal, angka tersebut melonjak drastis. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science tahun 2014 oleh S. L. Pimm dan timnya memperkirakan tingkat kepunahan saat ini bisa mencapai 1.000 kali lebih cepat dibanding tingkat alami. Bahkan beberapa ilmuwan menyebut angkanya mungkin mendekati 10.000 kali lipat. Jika angka ini akurat, maka Bumi memang sedang menghadapi krisis biodiversitas yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia.2. Memahami Zaman Holosen dan Antroposen
Zaman Holosen dimulai sekitar 11.700 tahun lalu, setelah berakhirnya zaman es terakhir. Era ini menyaksikan berkembangnya peradaban manusia—dari pemburu-pengumpul menjadi masyarakat agraris, hingga lahirnya kota-kota besar dan revolusi industri. Namun, sebagian ilmuwan kini mengusulkan istilah baru: Antroposen, atau “zaman manusia”. Istilah ini merujuk pada periode ketika aktivitas manusia secara signifikan mengubah atmosfer, lautan, dan daratan Bumi. Banyak ahli menilai era ini dimulai sekitar pertengahan abad ke-20, ketika emisi karbon, industrialisasi, dan konsumsi global meningkat drastis. Walau belum diresmikan secara geologis, istilah Antroposen semakin sering digunakan dalam literatur ilmiah untuk menggambarkan dampak kolektif manusia terhadap sistem Bumi.3. Bukti Awal: Dari Megafauna hingga Burung Dodo
Jejak kepunahan akibat aktivitas manusia sebenarnya sudah terlihat sejak ribuan tahun lalu. Studi tahun 2023 dalam Nature Communications menunjukkan bahwa banyak megafauna—seperti mammoth berbulu—lebih mungkin punah akibat ekspansi Homo sapiens dibanding perubahan iklim semata. Contoh klasik lainnya adalah punahnya burung dodo (Raphus cucullatus) di Mauritius pada abad ke-17. Dalam waktu kurang dari 80 tahun setelah kedatangan pelaut Eropa, spesies ini menghilang akibat perburuan dan perusakan habitat. Ironisnya, pada masanya, kepunahan tersebut hampir tidak dianggap penting. Kisah dodo menjadi simbol betapa cepat dan sunyinya sebuah spesies bisa lenyap.4. Mengapa Kepunahan Saat Ini Berbeda?
Berbeda dengan kepunahan sebelumnya yang dipicu bencana alam, kepunahan modern berkaitan erat dengan:- Deforestasi dan konversi lahan besar-besaran
- Perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca
- Polusi darat dan laut
- Eksploitasi sumber daya berlebihan
- Perburuan dan perdagangan satwa liar



