7 Hewan yang Rela Mati Demi Bereproduksi Sekali Seumur Hidup, Strategi Alam yang Mengejutkan
Dunia satwa menyimpan begitu banyak kisah luar biasa, salah satunya adalah fenomena reproduksi bunuh diri. Salah satu contoh yang sering mencuri perhatian adalah tazmanian devil, hewan khas Australia yang namanya bahkan diabadikan sebagai tokoh animasi terkenal. Namun, tahukah Skandis bahwa ada sejumlah hewan lain yang hanya bisa bereproduksi satu kali sepanjang hidupnya, lalu mati setelahnya? Dalam biologi, reproduksi merupakan proses penting bagi makhluk hidup untuk mempertahankan keberlangsungan spesies. Akan tetapi, pada beberapa hewan, proses ini dilakukan dengan pengorbanan ekstrem: seluruh energi hidup mereka dihabiskan hanya untuk satu momen reproduksi. Fenomena ini dikenal dengan istilah semelpariti. Hewan yang menerapkan strategi ini disebut semelparous. Umumnya, semelpariti banyak ditemukan pada serangga, tetapi faktanya strategi ini juga terjadi pada ikan, reptil, hingga mamalia. Berbagai faktor menjadi penyebabnya, mulai dari usia hidup yang sangat pendek, kondisi lingkungan yang keras, hingga peluang bertemu pasangan yang sangat terbatas di alam liar. Lantas, hewan apa saja yang rela mengorbankan nyawa demi satu kali kesempatan bereproduksi? Mari Skandis simak ulasan lengkapnya berikut ini.1. Ikan Salmon Pasifik
2. Kaluta dari Australia
Kaluta adalah hewan marsupial kecil asal Australia yang sekilas tampak seperti tikus. Meski berukuran mungil, strategi hidupnya sangat ekstrem. Kaluta memiliki siklus hidup yang sangat singkat dan hanya membutuhkan waktu sekitar 10 bulan untuk mencapai usia reproduktif.
Pada musim kawin, kaluta betina mampu menyimpan sperma dari beberapa pejantan. Sebaliknya, kaluta jantan akan mati tak lama setelah kawin. Seluruh energi hidupnya dihabiskan demi memastikan genetiknya tetap berlanjut.
3. Oposum dari Amerika Selatan
Oposum merupakan hewan asli Amerika Selatan yang dikenal sebagai pemanjat ulung. Hewan ini memiliki umur yang relatif pendek. Baik jantan maupun betina umumnya mati tak lama setelah proses reproduksi atau melahirkan.
Menjelang musim kawin, tubuh oposum jantan memproduksi hormon stres kortikosteroid dalam jumlah sangat tinggi. Hormon ini membantu memecah protein menjadi energi demi stamina maksimal saat kawin. Namun, efek sampingnya sangat fatal: anemia, luka pada saluran pencernaan, serta melemahnya sistem imun yang akhirnya menyebabkan kematian.
4. Kadal Bunchgrass Trans Vulkanik dari Meksiko
Kadal Sceloporus bicanthalis atau kadal bunchgrass trans vulkanik adalah spesies endemik Meksiko dengan usia hidup kurang dari satu tahun. Yang menarik, pada spesies ini justru kadal betina yang mati setelah bereproduksi, sementara pejantan dapat bertahan hidup beberapa bulan lebih lama.
Fenomena ini menjadi pengecualian menarik, karena pada kebanyakan hewan semelparous, jantanlah yang lebih dulu mati.
5. Antechinus dari Australia
Antechinus adalah mamalia marsupial pemakan serangga yang terkenal dengan ritual kawin ekstrem. Saat musim kawin tiba, antechinus jantan akan kawin tanpa henti hingga 14 jam dengan beberapa betina.
Akibat aktivitas seksual yang berlebihan, tubuh antechinus jantan mengalami kerusakan parah. Bulu rontok, terjadi pendarahan internal, dan sistem imun runtuh. Kondisi ini membuatnya rentan terhadap infeksi hingga akhirnya mati.
6. Bunglon Labord dari Madagaskar
Bunglon Labord (Furcifer labordi) dikenal sebagai vertebrata berkaki empat dengan usia hidup terpendek di dunia, hanya sekitar empat hingga lima bulan. Karena waktu hidupnya yang singkat, bunglon ini hanya sempat bereproduksi satu kali.
Siklus hidupnya sangat teratur. Telur menetas saat hujan pertama di bulan November, dewasa pada Januari, kawin di Februari, dan seluruh populasi dewasa mati setelah bertelur. Generasi berikutnya baru muncul kembali di musim hujan berikutnya.
7. Phascogale dari Australia
Phascogale adalah mamalia marsupial karnivora kecil dengan ciri khas rambut hitam di ujung ekornya. Hewan ini termasuk satwa dilindungi karena populasinya terus menurun.
Phascogale jantan umumnya hanya hidup kurang dari satu tahun. Proses kawin yang sangat intens antara bulan Juni hingga Agustus membuat pejantan kelelahan ekstrem dan akhirnya mati. Betinanya kemudian membesarkan hingga delapan anak di dalam lubang pohon selama masa kehamilan.



