Perceraian orangtua dapat membawa dampak besar bagi struktur keluarga dan emosi anak. Tidak hanya mengubah dinamika keluarga, tetapi juga berpotensi menimbulkan luka batin yang dalam. Banyak anak yang tidak mampu mengungkapkan perasaan mereka dengan kata-kata, dan seringkali mereka menunjukkan luka emosional tersebut melalui perubahan sikap yang tak terduga.
Psikolog Agata Paskarista menjelaskan bahwa proses adaptasi anak terhadap perceraian orangtua bukanlah hal yang mudah. Bahkan bagi orang dewasa, proses ini penuh dengan dinamika dan perubahan perasaan yang bisa naik turun.
Berikut adalah beberapa tanda yang dapat mengindikasikan bahwa anak sedang mengalami trauma emosional akibat perceraian orangtua:
1. Menunjukkan perilaku memberontak
Pada masa adaptasi, anak dapat menunjukkan perilaku yang mungkin dirasakan menyakitkan oleh orangtua. Misalnya, mereka menjadi mudah marah, sulit diatur, atau enggan berkomunikasi dengan orangtuanya. Perilaku ini seringkali disalahartikan sebagai sikap memberontak, padahal bisa jadi itu adalah cara anak untuk mengekspresikan kebingungannya. Setiap anak memiliki cara yang berbeda dalam mengatasi perasaan mereka.
“Selama proses adaptasi, mungkin ada perilaku yang tampaknya menyakitkan orangtua atau bahkan terlihat seperti anak yang bermasalah,” ujar Agata dalam wawancaranya dengan Kompas.com, Rabu (9/4/2025).
2. Perasaan campur aduk terhadap orangtua
Anak yang berusaha memahami perubahan dalam struktur keluarganya seringkali menunjukkan sikap yang tidak konsisten terhadap orangtua. Ada kalanya mereka ingin mendekat karena merindukan kedekatan dan rasa aman, namun di waktu lain mereka bisa menjauh karena merasa bingung tentang posisinya dalam keluarga.
“Mereka terkadang merasa bingung, namun di saat yang lain juga mendekat ke orangtua. Begitu juga sebaliknya, mereka bisa menjauh atau merasa tidak yakin,” jelas Agata.
3. Ingin tetap terhubung meskipun belum sepenuhnya menerima situasi
Meski ada perubahan perilaku yang tampak tidak menentu, jika anak masih menunjukkan rasa ingin tahu dan ingin tetap terhubung dengan orangtuanya, itu adalah tanda bahwa mereka berusaha untuk menerima situasi yang baru. Anak yang beradaptasi membutuhkan waktu untuk sepenuhnya menerima perubahan yang terjadi dalam hidup mereka.
Agata menyarankan agar orangtua tetap merangkul anak dan memberikan ruang untuk mereka mengekspresikan emosinya setelah perceraian orangtua.
“Anak yang sedang beradaptasi sering kali masih memiliki rasa ingin tahu dan berusaha untuk tetap terhubung dengan orangtuanya,” tambahnya.
4. Menarik diri dan merasa kesepian
Jika anak mulai menolak untuk menyapa, menghindari pertemuan dengan orangtua, atau bahkan mengatakan hal-hal seperti “Aku tidak punya mama dan papa lagi” atau “Aku merasa sendirian,” maka ini adalah tanda yang perlu diperhatikan. Tindakan ini menunjukkan bahwa luka emosional anak akibat perceraian orangtuanya sudah cukup mendalam.
Dalam situasi seperti ini, anak mungkin sedang mulai mengembangkan perasaan negatif terhadap salah satu atau kedua orangtuanya, meskipun dari luar tampak biasa saja. Agata menyarankan agar orangtua dan anak mencari bantuan profesional, seperti psikolog, untuk mencegah perasaan benci atau dendam semakin berkembang.
“Perilaku dan ungkapan seperti itu bisa menunjukkan bahwa anak sedang mengembangkan perasaan benci terhadap salah satu atau kedua orangtuanya,” ujarnya.
Dengan mengenali tanda-tanda ini, diharapkan Skandis bisa lebih memahami dan mendampingi anak dengan lebih baik, serta mencari dukungan yang dibutuhkan untuk mengatasi luka batin pasca perceraian. Keterbukaan dan perhatian yang terus-menerus sangat penting dalam membantu anak mengatasi masa transisi yang penuh tantangan ini.



