Misalnya, ketika sehari-hari sibuk bekerja jarang sakit, tetapi begitu liburan datang, tubuh justru memperlihatkan gejala seperti flu, kelelahan, atau nyeri.
Istilah leisure sickness diperkenalkan oleh psikolog Belanda Ad Vingerhoets untuk menggambarkan kondisi ini.
Menurut Corrine Ahrabi‑Nejad, instruktur Psikologi Medis di Columbia University Irving Medical Center, salah satu penyebabnya adalah bahwa banyak orang bekerja sangat keras tanpa memberi tubuh jeda istirahat yang sesungguhnya.
“Jika Skandis tidak menyediakan waktu bagi tubuh untuk rileks, tubuhlah pada akhirnya yang akan ‘memaksa’ istirahat lewat gejala fisik. Stres kronis dan beban berlebihan akan muncul dalam bentuk penyakit,” ujarnya.
Mengapa Leisure Sickness Bisa Terjadi?
Meskipun belum diterima sebagai kondisi medis resmi, para peneliti telah mengamati pola dan faktor‑faktor yang cenderung menyertai munculnya leisure sickness.Stres & Penurunan Respons Imun
Selama periode kerja, tubuh menghasilkan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol yang menjaga kewaspadaan. Namun ketika tekanan itu mereda secara tiba‑tiba (misalnya saat liburan), sistem imun bisa “terjatuh” ke kondisi rentan. Dengan tubuh yang sudah kelelahan akibat stres berkepanjangan, paparan virus atau mikroorganisme bisa lebih mudah menyerang.Paparan Kuman selama Perjalanan
Liburan sering melibatkan perjalanan ke tempat yang ramai — bandara, terminal, transportasi umum — sehingga paparan virus atau bakteri meningkat. Jika sistem imun tubuh sedang melemah, peluang terserang penyakit akan lebih besar. Jadwal perjalanan yang padat dan perubahan lingkungan makin memperparah risiko ini.Perubahan Rutinitas Harian
Pola tidur yang berubah, makan tak teratur, dan istirahat yang kurang saat liburan dapat membuat tubuh “kaget” — terutama jika sudah terbiasa pada rutinitas kerja ketat. Kurang tidur diketahui dapat menurunkan kekebalan tubuh, memicu peradangan, dan membuka peluang infeksi.Karakter & Kebiasaan Seseorang
Orang yang memiliki pencapaian tinggi atau sifat perfeksionis seringkali sulit mematikan “mode kerja” di luar jam kantor. Karena pikiran tetap terhubung dengan pekerjaan, tubuh tidak mendapatkan relaksasi penuh. Akibatnya, leisure sickness bisa lebih sering dialami oleh mereka yang sulit “lepas” dari keharusan produktif.Ciri & Gejala Leisure Sickness
Gejala leisure sickness dapat sangat variatif dan tidak selalu sama pada tiap orang. Dari studi IU yang melibatkan ribuan responden di Jerman, gejala yang paling sering muncul antara lain kelelahan, gangguan tidur, iritabilitas, sakit kepala, dan gejala flu ringan.- Kelelahan atau rasa sangat lemah mendadak ketika libur tiba
- Gangguan tidur berupa susah tidur atau tidur tak nyenyak
- Iritabilitas atau suasana hati mudah tersinggung
- Sakit kepala, migrain, nyeri otot
- Gejala seperti flu, batuk, pilek dalam beberapa hari pertama liburan
- Keluhan pencernaan seperti mual atau perut tidak nyaman
* Umumnya gejala ini berlangsung beberapa jam hingga maksimal 1–2 hari, dan mereda ketika tubuh mulai menyesuaikan diri dengan mode liburan.
Bagaimana Cara Mencegah atau Mengurangi Risiko?
Berikut beberapa strategi praktis yang bisa Skandis coba agar liburan tetap menyenangkan dan tubuh tetap sehat:- Transisi secara bertahap: Jangan langsung “mati listrik” begitu liburan datang. Sisipkan momen relaksasi ringan beberapa hari sebelumnya agar tubuh tidak kaget.
- Kurangi beban kerja menjelang cuti: Hindari menyelesaikan semua tugas besar tepat sebelum libur — ini sering membuat tubuh belum sempat “reset”.
- Pertahankan pola tidur & makan sehat: Usahakan tetap tidur cukup dan konsumsi makanan bernutrisi meskipun jadwal liburan berubah.
- Relaksasi aktif: Lakukan aktivitas ringan yang menyenangkan seperti hobi, jalan kaki santai, meditasi — agar tubuh tetap “aktif tanpa stres”.
- Jaga kebersihan dan hidrasi: Cuci tangan, hindari kontak langsung di tempat ramai jika memungkinkan, dan minum cukup air supaya sistem kekebalan tetap optimal.
- Batasi perangkat kerja: Jika memungkinkan, jauhkan gadget kerja, jangan terus‑menerus mengecek email — agar pikiran benar‑benar cuti.
- Rencanakan jadwal liburan wajar: Jangan terlalu padat; beri jeda antar aktivitas agar tubuh dan pikiran bisa pulih.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Terasa Sakit Saat Liburan?
Jika Skandis mulai merasakan gejala seperti kelelahan ekstrem, flu ringan, atau nyeri, beberapa langkah ini bisa membantu:- Istirahatkan diri sebaik mungkin — hindari aktivitas berat selama beberapa hari awal liburan.
- Konsumsi makanan bergizi dan cukup cairan untuk mendukung sistem imun.
- Jika perlu, konsultasikan ke dokter atau tenaga medis lokal untuk evaluasi lebih lanjut.
- Catat pola gejala dan pemicunya — ini bisa membantu menghindarinya di periode liburan selanjutnya.
* Karena leisure sickness belum menjadi diagnosis medis resmi, gejala yang timbul bisa tumpang tindih dengan penyakit umum lainnya. Bila gejala berlangsung lama atau parah, sebaiknya periksa ke profesional kesehatan.



