Kenapa Waktu Terasa Makin Cepat? Ini Penjelasan Sains dan Psikologinya
Pernah merasa hari baru saja dimulai, lalu tahu-tahu sudah malam? Atau baru masuk awal tahun, tapi tanpa terasa sudah mendekati akhir tahun lagi. Padahal, jumlah jam dalam sehari tidak pernah berubah. Tetap 24 jam. Yang berubah adalah cara manusia merasakan dan memaknai waktu.
Fenomena waktu terasa makin cepat adalah pengalaman yang sangat umum, terutama saat seseorang beranjak dewasa. Dan ini bukan sekadar perasaan subjektif. Sains dan psikologi punya penjelasan yang cukup jelas tentang mengapa hal ini terjadi.
Otak Tidak Menghitung Waktu Seperti Jam
Manusia tidak memiliki jam internal yang benar-benar menghitung detik, menit, dan jam secara presisi. Otak memperkirakan waktu berdasarkan jumlah pengalaman, tingkat perhatian, serta emosi yang terlibat dalam suatu aktivitas.
Ketika Skandis sedang fokus bekerja, menikmati hobi, atau larut dalam percakapan yang menyenangkan, perhatian sepenuhnya tertuju pada aktivitas tersebut. Otak tidak “mencatat” waktu secara detail. Akibatnya, saat aktivitas selesai, waktu terasa berlalu begitu singkat.
Sebaliknya, ketika menunggu, bosan, atau berada dalam situasi tidak menyenangkan, perhatian justru tertuju pada waktu itu sendiri. Detik demi detik terasa lambat, dan durasi yang sama bisa terasa jauh lebih panjang.
Rutinitas Membuat Waktu Terasa Menghilang
Rutinitas adalah salah satu penyebab utama waktu terasa cepat berlalu. Hari-hari yang diisi dengan pola yang sama—bangun, bekerja, pulang, istirahat, lalu mengulang—cenderung menghasilkan sedikit memori baru.
Karena tidak banyak kejadian unik, otak tidak membuat banyak “penanda waktu”. Akibatnya, ketika melihat ke belakang, minggu, bulan, bahkan tahun terasa berlalu tanpa terasa.
Bukan karena waktunya yang lebih cepat, tetapi karena sedikit momen yang benar-benar diingat.
Bertambah Usia, Persepsi Waktu Ikut Berubah
Saat masih anak-anak, hampir semua hal adalah pengalaman baru. Otak terus merekam momen-momen pertama kali: pertama masuk sekolah, pertama bepergian, pertama mencoba hal baru. Banyaknya pengalaman ini membuat waktu terasa panjang.
Saat dewasa, hidup cenderung lebih stabil dan berulang. Pengalaman baru semakin jarang. Selain itu, secara psikologis, satu tahun menjadi bagian yang lebih kecil dari total usia yang telah dijalani.
Bagi anak berusia lima tahun, satu tahun adalah 20 persen dari hidupnya. Bagi orang dewasa berusia 40 tahun, satu tahun hanyalah 2,5 persen. Perbandingan inilah yang membuat waktu terasa semakin singkat seiring bertambahnya usia.
Emosi dan Kebersamaan Mempercepat Waktu
Saat berada di momen yang menyenangkan—bersama orang yang disukai, tertawa, atau menikmati suasana tertentu—otak fokus pada emosi dan interaksi, bukan pada waktu.
Karena itu, pertemuan panjang bisa terasa singkat. Namun menariknya, ketika dikenang kembali, momen tersebut justru terasa berkesan dan “padat” karena memori emosionalnya kuat.
Apa Artinya Jika Waktu Terasa Sangat Cepat?
Waktu yang terasa cepat tidak selalu buruk. Bisa jadi itu tanda bahwa hidup dijalani dengan keterlibatan penuh dan fokus. Namun dalam beberapa kasus, ini juga bisa menjadi sinyal bahwa hidup terlalu monoton dan minim pengalaman baru.
Menambahkan variasi kecil—mencoba rute berbeda, belajar hal baru, bepergian, atau mengubah pola harian—bisa membantu otak menciptakan lebih banyak memori. Hasilnya, hidup terasa lebih panjang, lebih bermakna, dan lebih “hidup”.
Penutup
Waktu tidak pernah berubah kecepatannya. Yang berubah adalah cara otak menyimpan dan mengingat cerita hidup. Semakin banyak pengalaman, emosi, dan hal baru yang dijalani, semakin kaya memori yang tercipta.
Dan di sanalah rahasianya. Bukan memperlambat waktu, tapi mengisinya dengan momen yang layak diingat.