Mengapa Eropa Mengalami Gelombang Panas yang Sangat Ekstrem?
Menurut Dicky, terdapat beberapa faktor yang saling berkaitan sehingga suhu di berbagai negara Eropa melonjak hingga melampaui 40 derajat Celsius. Negara seperti Spanyol dilaporkan mencatat suhu mendekati 45 derajat Celsius, sementara Prancis mengalami suhu lebih dari 43 derajat Celsius. Pada puncak gelombang panas, Prancis bahkan mencatat peningkatan angka kematian hampir 30 persen dalam sehari. Negara lain seperti Jerman, Polandia, Republik Ceko, Hungaria, dan Slovakia juga mengalami suhu di atas 40 derajat Celsius, bahkan beberapa di antaranya memecahkan rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah pencatatan. Salah satu penyebab utama adalah fenomena heat dome atau kubah panas. Fenomena ini terjadi ketika sistem tekanan udara tinggi bertindak layaknya penutup yang menjebak udara panas di dekat permukaan bumi. Akibatnya, pembentukan awan menjadi sangat minim, hujan sulit terjadi, dan sinar matahari terus memanaskan permukaan tanah selama beberapa hari berturut-turut. Selain itu, massa udara panas dari kawasan Gurun Sahara di Afrika Utara turut mengalir menuju Eropa sehingga memperparah kondisi yang sudah panas akibat kubah panas tersebut. Namun, menurut para ahli, faktor paling mendasar adalah perubahan iklim akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca. Pemanasan global telah menaikkan suhu dasar bumi sehingga setiap gelombang panas kini memiliki dampak yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Dicky juga mengungkapkan bahwa berdasarkan diskusi dalam konferensi internasional mengenai Global Health Security, One Health, dan Planetary Health di Brisbane, Australia, gelombang panas yang terjadi di Eropa pada Juni 2026 hampir tidak mungkin terjadi tanpa adanya pengaruh perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia. Fakta lainnya, Eropa saat ini merupakan benua yang mengalami laju pemanasan tercepat di dunia, sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Kondisi tersebut membuat wilayah tersebut semakin rentan mengalami cuaca ekstrem.Apakah Gelombang Panas Eropa Akan Terjadi di Indonesia?
Dicky menegaskan bahwa gelombang panas yang melanda Eropa tidak akan berpindah langsung ke Indonesia karena merupakan fenomena cuaca regional yang dipengaruhi kondisi atmosfer setempat. Meski demikian, bukan berarti Indonesia terbebas dari ancaman panas ekstrem. Justru, perubahan iklim menyebabkan suhu rata-rata di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun sehingga hari-hari dengan cuaca sangat panas menjadi lebih sering terjadi. Yang menjadi perhatian bukan hanya suhu udara, tetapi juga meningkatnya heat index atau suhu yang benar-benar dirasakan tubuh manusia. Nilai ini dipengaruhi oleh kombinasi suhu udara dan tingkat kelembapan.Mengapa Panas di Indonesia Bisa Terasa Lebih Berbahaya?
Sekilas, suhu udara di Indonesia yang berkisar antara 34 hingga 36 derajat Celsius memang terlihat lebih rendah dibandingkan suhu ekstrem di Eropa. Namun, kondisi tersebut justru bisa memberikan dampak yang lebih berat bagi tubuh karena Indonesia memiliki kelembapan udara yang sangat tinggi. Kelembapan yang tinggi membuat keringat sulit menguap. Padahal, proses penguapan keringat merupakan mekanisme alami tubuh untuk menurunkan suhu. Ketika proses tersebut terganggu, tubuh akan lebih cepat mengalami peningkatan suhu internal. Akibatnya, risiko berbagai gangguan kesehatan meningkat, mulai dari dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), serangan panas (heat stroke), hingga memperburuk penyakit kronis seperti gangguan jantung, penyakit paru, dan gangguan ginjal. Dalam ilmu kesehatan masyarakat, tingkat risiko tidak hanya ditentukan oleh suhu udara, tetapi juga oleh kombinasi suhu dan kelembapan yang dikenal sebagai heat index atau suhu nyata yang dirasakan tubuh.Kota Besar di Indonesia Menghadapi Ancaman Tambahan
Selain kelembapan tinggi, kota-kota besar di Indonesia menghadapi tantangan lain berupa fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan. Banyaknya bangunan beton, jalan beraspal, serta minimnya ruang terbuka hijau menyebabkan suhu di kawasan perkotaan menjadi lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya. Kota-kota seperti Jakarta, Surabaya, Medan, hingga Makassar menjadi contoh wilayah yang rentan mengalami peningkatan suhu akibat fenomena tersebut. Polusi udara juga memperburuk dampak kesehatan karena membuat sistem pernapasan bekerja lebih berat ketika tubuh sedang berusaha mengatasi suhu panas. Di sisi lain, muncul pula fenomena hot night, yaitu kondisi ketika suhu udara tetap tinggi pada malam hari. Situasi ini membuat tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendinginkan diri setelah terpapar panas sepanjang siang sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan.Kelompok yang Paling Rentan Mengalami Dampak Panas Ekstrem
Panas ekstrem tidak memberikan dampak yang sama pada setiap orang. Beberapa kelompok memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami komplikasi kesehatan, di antaranya:- Lansia.
- Bayi dan anak-anak.
- Ibu hamil.
- Pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.
- Penderita penyakit jantung.
- Penderita penyakit paru.
- Penyandang diabetes.
- Penderita penyakit ginjal.



