1. Perbanyak Konsumsi Protein di Setiap Waktu Makan
Protein merupakan salah satu nutrisi yang paling berperan dalam program penurunan berat badan. Dibandingkan karbohidrat dan lemak, tubuh membutuhkan lebih banyak energi untuk mencerna dan mengolah protein. Kondisi ini dikenal sebagai thermic effect of food, yaitu jumlah kalori yang digunakan tubuh selama proses pencernaan.
Selain membantu meningkatkan pembakaran kalori, protein juga memberikan rasa kenyang lebih lama. Ketika tubuh mendapatkan asupan protein yang cukup, produksi hormon lapar seperti grelin cenderung menurun, sementara hormon yang memberikan sinyal kenyang meningkat.
Akibatnya, keinginan untuk ngemil berlebihan atau makan dalam porsi besar dapat berkurang secara alami.
Sumber protein berkualitas yang dapat dikonsumsi setiap hari antara lain telur, ayam tanpa kulit, ikan, tahu, tempe, susu, yoghurt tinggi protein, serta berbagai jenis kacang-kacangan.
2. Tidur Cukup dan Memiliki Jam Tidur yang Teratur
Banyak orang fokus mengatur pola makan, tetapi mengabaikan kualitas tidur. Padahal, tidur memiliki peran besar dalam mengatur hormon yang berkaitan dengan rasa lapar dan kenyang.
Ketika seseorang kurang tidur, tubuh akan memproduksi lebih banyak hormon grelin yang memicu rasa lapar. Pada saat yang sama, kadar leptin yang bertugas memberikan sinyal kenyang justru menurun.
Akibatnya, tubuh lebih mudah menginginkan makanan tinggi gula, tinggi lemak, dan tinggi kalori sebagai sumber energi instan.
Selain itu, kurang tidur juga dapat memperlambat proses pemulihan tubuh setelah beraktivitas dan mengganggu fungsi metabolisme. Berbagai penelitian menemukan bahwa orang yang rutin tidur kurang dari tujuh jam per malam memiliki risiko lebih tinggi mengalami kenaikan berat badan dan obesitas.
Menjaga kualitas tidur selama 7 hingga 9 jam setiap malam dapat menjadi salah satu langkah sederhana yang memberikan dampak besar terhadap keberhasilan diet.
3. Lebih Banyak Bergerak Sepanjang Hari
Banyak orang berpikir bahwa olahraga satu jam sudah cukup untuk membakar kalori. Namun sebenarnya, aktivitas fisik yang dilakukan sepanjang hari juga memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap pengeluaran energi.
Berjalan kaki, naik tangga, berdiri saat bekerja, membersihkan apartemen, atau berjalan singkat saat menerima panggilan telepon merupakan aktivitas yang dapat meningkatkan pembakaran kalori harian.
Dalam dunia kesehatan, aktivitas ini dikenal sebagai Non-Exercise Activity Thermogenesis (NEAT).
Pada beberapa orang, perbedaan tingkat aktivitas harian dapat menghasilkan selisih pembakaran hingga ratusan kalori setiap hari. Karena itu, jangan hanya fokus pada olahraga terjadwal, tetapi usahakan tubuh tetap aktif sejak pagi hingga malam.
4. Mengurangi Konsumsi Minuman Manis
Salah satu penyebab kenaikan berat badan yang paling sering tidak disadari adalah konsumsi kalori dalam bentuk minuman.
Teh manis, kopi dengan tambahan sirup, minuman boba, soda, jus kemasan, hingga minuman energi sering kali mengandung gula dan kalori dalam jumlah yang cukup tinggi.
Masalahnya, kalori cair tidak memberikan rasa kenyang yang sama seperti makanan padat. Akibatnya, seseorang tetap makan dalam jumlah normal meskipun sebelumnya telah mengonsumsi ratusan kalori melalui minuman.
Mengganti minuman manis dengan air putih, teh tanpa gula, atau kopi tanpa tambahan pemanis dapat membantu menciptakan defisit kalori tanpa perlu merasa terlalu dibatasi.
5. Membiasakan Diri Makan Lebih Pelan
Kecepatan makan ternyata berpengaruh besar terhadap jumlah makanan yang dikonsumsi.
Otak membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk menerima sinyal kenyang dari sistem pencernaan. Jika seseorang makan terlalu cepat, tubuh belum sempat mengirimkan sinyal tersebut ketika makanan sudah dikonsumsi dalam jumlah berlebihan.
Makan lebih perlahan membantu tubuh mengenali rasa kenyang dengan lebih akurat. Selain itu, kebiasaan ini membuat Skandis lebih menikmati rasa, aroma, dan tekstur makanan sehingga pengalaman makan menjadi lebih memuaskan.
Cobalah mengunyah lebih lama, menaruh sendok atau garpu sesaat setelah beberapa suapan, dan menghindari makan sambil bermain ponsel atau menonton.
6. Menambah Asupan Serat Setiap Hari
Serat merupakan salah satu komponen makanan yang sangat membantu dalam proses penurunan berat badan.
Makanan tinggi serat memperlambat proses pengosongan lambung sehingga rasa kenyang dapat bertahan lebih lama. Serat juga membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil dan mengurangi lonjakan rasa lapar yang muncul secara tiba-tiba.
Selain itu, makanan berserat biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk dikunyah sehingga secara tidak langsung membantu mengontrol kecepatan makan.
Sumber serat terbaik meliputi sayuran hijau, buah-buahan segar, oat, kacang-kacangan, biji chia, biji rami, dan berbagai jenis biji-bijian utuh.
Semakin tinggi konsumsi serat, semakin besar peluang untuk mengurangi asupan kalori secara alami tanpa merasa kelaparan.
7. Menimbang Berat Badan Secara Rutin
Bagi sebagian orang, timbangan terasa menakutkan. Namun sebenarnya, memantau berat badan secara berkala dapat membantu meningkatkan kesadaran terhadap kebiasaan sehari-hari.
Menimbang berat badan bukan berarti harus melakukannya setiap beberapa jam. Cukup lakukan secara konsisten pada waktu yang sama, misalnya setiap pagi setelah bangun tidur dan setelah ke kamar mandi.
Kebiasaan ini dapat membantu Skandis mengetahui apakah pola makan dan aktivitas yang dilakukan sudah berada di jalur yang tepat.
Penelitian menunjukkan bahwa individu yang secara rutin memantau berat badan cenderung lebih berhasil mempertahankan hasil penurunan berat badan dalam jangka panjang.
8. Rutin Melakukan Latihan Kekuatan atau Strength Training
9. Membiasakan Meal Prep atau Perencanaan Makanan
Salah satu penyebab terbesar kegagalan diet adalah keputusan makan yang dilakukan secara spontan.
Saat rasa lapar datang dan tidak ada makanan sehat yang tersedia, banyak orang akhirnya memilih makanan cepat saji atau camilan tinggi kalori yang praktis dikonsumsi.
Meal prep membantu mengurangi risiko tersebut dengan cara menyiapkan makanan atau bahan makanan sejak awal.
Skandis tidak perlu membuat persiapan yang rumit. Menyimpan telur rebus, buah segar, yoghurt, dada ayam matang, atau sayuran yang sudah dipotong di dalam kulkas dapat membuat pilihan makanan sehat menjadi lebih mudah dijangkau.
10. Mengelola Stres dengan Lebih Baik
Stres berkepanjangan dapat menjadi salah satu penghambat terbesar dalam proses penurunan berat badan.
Ketika stres meningkat, tubuh menghasilkan lebih banyak hormon kortisol yang dapat memicu rasa lapar serta meningkatkan keinginan mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak.
Banyak orang juga tanpa sadar menjadikan makanan sebagai pelarian ketika merasa cemas, lelah, kecewa, atau sedih. Kebiasaan ini dikenal sebagai emotional eating.
Karena itu, mengelola stres merupakan bagian penting dari perjalanan menuju berat badan yang lebih sehat.
Skandis dapat mencoba berbagai aktivitas sederhana seperti berjalan santai, menulis jurnal, membaca buku, mendengarkan musik, berolahraga ringan, atau menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat.



