Di tengah kondisi ekonomi yang sering kali tidak menentu, fenomena membeli barang mewah tetap menjadi sesuatu yang menarik untuk diamati.
Bagi sebagian orang, keputusan ini terlihat tidak rasional—mengeluarkan biaya besar untuk sesuatu yang secara fungsi sering kali bisa digantikan oleh alternatif yang lebih terjangkau.
Namun, jika dilihat dari perspektif psikologi, keputusan tersebut justru sangat manusiawi.
Di balik setiap pembelian barang mewah, terdapat kombinasi kompleks antara kebutuhan emosional, dorongan sosial, hingga persepsi diri yang ingin dibangun.
Berikut adalah sepuluh alasan psikologis yang menjelaskan mengapa seseorang tetap tertarik pada barang mewah, bahkan ketika harganya terbilang tinggi.



