5 Musisi Barat yang Pensiun Saat Karier di Puncak: Keputusan Berani di Tengah Gemerlap Dunia Musik
Dalam industri musik, mencapai puncak popularitas adalah impian banyak orang. Tur dunia yang selalu sold out, album terjual jutaan kopi, penghargaan bergengsi, hingga pengaruh budaya yang meluas sering dianggap sebagai garis akhir kesuksesan. Banyak musisi berjuang sepanjang hidup demi berada di posisi tersebut. Namun tidak semua orang memaknai ketenaran dengan cara yang sama. Beberapa musisi justru memilih mundur ketika cahaya sorotan sedang paling terang. Keputusan ini kerap mengejutkan publik dan meninggalkan pertanyaan besar: mengapa berhenti saat segalanya sedang berada di puncak? Berikut lima musisi Barat yang memilih pensiun atau menarik diri dari industri musik ketika karier mereka sedang bersinar terang.1. Syd Barrett (Pink Floyd)
Syd Barrett adalah sosok penting di balik fase awal Pink Floyd. Sebagai penulis lagu utama dan wajah kreatif band, ia membentuk identitas psikedelik Pink Floyd lewat lirik surealis dan komposisi eksperimental.
Namun pada 1968, kondisi mental Barrett memburuk, diduga akibat penggunaan LSD berlebihan dan gangguan psikologis yang tidak tertangani. Ia akhirnya dikeluarkan dari band dan digantikan oleh David Gilmour.
Barrett sempat merilis dua album solo, The Madcap Laughs dan Barrett, tetapi tak lama kemudian benar-benar menghilang dari industri musik. Ia memilih hidup sederhana di Cambridge dan fokus melukis. Kepergiannya di awal kejayaan Pink Floyd menjadi salah satu kisah paling tragis sekaligus misterius dalam sejarah rock.
2. Lauryn Hill
Ketika Lauryn Hill merilis album The Miseducation of Lauryn Hill pada 1998, dunia musik seperti menemukan ikon baru. Album tersebut sukses besar secara komersial dan kritis, memadukan R&B, hip-hop, soul, dan gospel dengan kedalaman lirik yang personal dan politis.
Hill memenangkan lima Grammy dalam satu malam—pencapaian luar biasa untuk artis solo perempuan saat itu. Masa depannya tampak tak terbatas.
Namun, alih-alih terus melaju, Hill justru menarik diri dari sorotan. Ia jarang merilis karya studio baru, membatalkan sejumlah tur, dan menghindari media. Dalam berbagai wawancara, ia menyebut tekanan industri, ekspektasi publik, dan kelelahan mental sebagai alasan utama. Keputusannya membuat banyak penggemar merasa kehilangan potensi besar yang belum sepenuhnya tergali.
3. Cat Stevens
Di era 1970-an, Cat Stevens dikenal sebagai penyanyi folk-pop dengan lagu-lagu ikonik seperti Father and Son dan Peace Train. Kariernya stabil dan popularitasnya mendunia.
Pada 1976, pengalaman hampir tenggelam mengubah arah hidupnya. Ia menjalani pencarian spiritual yang mendalam dan pada 1977 memeluk Islam, mengganti nama menjadi Yusuf Islam. Tak lama setelah itu, ia meninggalkan industri musik pop sepenuhnya.
Selama hampir tiga dekade, ia fokus pada kegiatan pendidikan dan kemanusiaan. Ketika kembali merilis musik pada 2006, pendekatannya jauh lebih reflektif dan spiritual. Keputusan Stevens menunjukkan bahwa transformasi pribadi bisa lebih penting daripada mempertahankan status bintang global.
4. Kate Bush
Kate Bush dikenal sebagai musisi visioner dengan gaya art pop yang unik dan teatrikal. Sejak debutnya di akhir 1970-an, ia meraih kesuksesan besar, namun selalu menjaga jarak dari kehidupan selebritas.
Sepanjang kariernya, Bush hanya melakukan satu tur besar. Ia lebih memilih berkarya di studio, mengontrol proses kreatifnya dengan sangat personal. Album 50 Words for Snow (2011) sukses secara komersial, tetapi ia tetap jarang tampil di publik.
Ketika lagunya Running Up That Hill kembali viral lewat serial Stranger Things pada 2022, Bush tetap mempertahankan privasinya. Ia membuktikan bahwa pengaruh budaya bisa bertahan tanpa harus terus-menerus berada di panggung.
5. Bill Withers
Bill Withers adalah penulis lagu di balik karya-karya abadi seperti Ain’t No Sunshine, Lean on Me, dan Use Me. Pada 1970-an, namanya berada di puncak musik soul dan R&B.
Namun di tengah kesuksesan itu, Withers merasa tidak nyaman dengan tekanan industri dan campur tangan label rekaman. Ia memilih mundur perlahan dari dunia musik pada awal 1980-an.
Tanpa drama besar, Withers menjalani hidup yang jauh dari sorotan. Meski kariernya relatif singkat, lagu-lagunya tetap hidup lintas generasi—membuktikan bahwa warisan musikal tidak selalu diukur dari lamanya berada di panggung.



