Hello Skandis! Kita akan memberikan tips-tips mendidik anak adalah mengajarkan si Kecil untuk dapat mandiri sejak kecil. Sebagai orang tua, Skandis bertanggung jawab mendidik si Kecil agar dapat menghadapi kesulitan, memecahkan masalah, dan kelak mengurus dirinya.
“Memberikan kebahagiaan kepada anak sama pentingnya dengan memberikan tantangan untuk ia hadapi.”
Salah satu tips mendidik anak adalah mengajarkan si Kecil untuk dapat mandiri sejak kecil. Sebagai orang tua, Skandis bertanggung jawab mendidik si Kecil agar dapat menghadapi kesulitan, memecahkan masalah, dan kelak mengurus dirinya.
Sayangnya, tujuan ini akan sulit dicapai bila orang tua terlalu memanjakan anaknya. Setiap orang tua tentu ingin membuat anaknya senang. Namun, terkadang hal ini malah menjadi bumerang.
Saking seringnya berusaha membuat anak senang, orang tua menjadi berlebihan dan tanpa sadar membuat si Kecil menjadi sosok yang manja. Padahal, sifat manja ini dapat menimbulkan dampak buruk bagi perkembangan anak kelak.
Banyak orang tua tidak menyadari perlu ada batasan dalam memberikan kenyamanan pada buah hatinya. Anak yang terlalu terbiasa dalam kondisi nyaman cenderung menjadi manja dan tidak bisa mandiri. Bukan berarti Skandis harus bersikap keras dan perhitungan kepada anak.
Namun, sebagai orang tua, Skandis juga bertanggung jawab mendidik si Kecil agar dapat menghadapi kesulitan, memecahkan masalah, dan kelak mengurus dirinya. Tips mendidik anak yang perlu diingat: memberikan kebahagiaan kepada anak sama pentingnya dengan memberikan tantangan untuk ia hadapi.
Yuk, simak tips mendidik anak agar tidak tumbuh menjadi sosok yang manja berikut ini!
Konsisten Dengan Apa Yang Diucapkan
Salah satu faktor yang dapat membuat anak cenderung manja adalah karena orang tua tidak konsisten dengan perkataannya. Misalnya, ketika anak meminta sesuatu, lalu Skandis bilang tidak, kemungkinan besar ia akan merengek dan memaksa Skandis untuk memenuhi keinginannya.
Kejadian seperti ini biasanya memaksa orang tua untuk kemudian menuruti kemauan anaknya.
Perubahan sikap dan ucapan yang Skandis tunjukkan akan diingat terus oleh si Kecil. Ia pun berkesimpulan bahwa, jika ia merengek atau memaksa, Skandis akan memenuhi keinginannya.
Jika Skandis tidak mengubah sikap seperti ini, si Kecil bisa bertumbuh menjadi anak yang manja, selalu ingin kemauannya dituruti, dan tidak bisa menerima penolakan.
Tidak Selalu Membantu
Skandis harus dapat mengidentifikasi mana kegiatan anak yang
perlu dibantu, dan mana yang bisa ia lakukan sendiri. Misalnya, berikan kebebasan pada si Kecil untuk makan sendiri, memilih baju sendiri, dan membereskan mainan sendiri.
Skandis dapat memberikan bantuan pada kegiatan yang memang perlu keterlibatan orang dewasa, seperti memotongkan kertas, mengambilkan makanan, mempersiapkan peralatan sekolah si Kecil, dan sebagainya.
Tidak Boleh Berbohong
Tekankan pentingnya berkata dan bersikap jujur pada si Kecil. ini penting bukan hanya untuk mencegah si Kecil menjadi manja, tetapi juga untuk masa depannya. Ajari si Kecil agar berani bersikap terbuka tentang perasaannya atau masalah yang ia hadapi.
Berikan Penjelasan Yang Jelas
Ketika permintaan anak tidak dituruti oleh orang tuanya, ia akan merasa menangis, marah, dan kesal. Skandis mungkin akan terenyuh dan tak tega melihat si Kecil merasa sedih seperti itu. Namun, bukan berarti lantas Skandis dapat mengubah sikap dan menuruti kemauan anak. Itu bukanlah langkah yang bijak. Skandis harus tetap konsisten dengan ucapan dan keputusan yang sudah diutarakan.
Untuk membantu si Kecil mengatasi kesedihannya, Skandis dapat menyampaikan alasan mengapa menolak menuruti kemauannya secara lembut dan jelas, hingga ia mengerti dan tenang.
Hindari memberi penolakan atau larangan kepada anak tanpa penjelasan apa pun. Ini hanya akan membuat anak tak puas dan semakin memaksa. Komunikasi dua arah adalah solusi terbaik untuk memberi pengertian kepada anak, alih-alih bersikap otoriter.
Memberi Cukup Perhatian
Perhatian yang cukup dari orang tua akan membuat anak bahagia dan nyaman. Perhatian di sini maksudnya bukan sekadar memberikan materi atau barang-barang kesukaan anak.
Lebih jauh lagi, perhatian yang dapat turut membentuk karakter mandiri anak adalah kepedulian orang tua terhadap perasaan dan aktivitas si Kecil.
Misalnya, Skandis sering menemani si Kecil belajar. Duduk di dekatnya dan membantunya menyelesaikan PR dapat berdampak sangat positif, lho. Ia bisa jadi lebih semangat belajar dan bila mengalami kesulitan dapat langsung bertanya pada Skandis.
Selain itu, Skandis dapat membangun kedekatan emosional dengan mendorong si Kecil untuk mengungkapkan perasaan apapun yang ia rasakan. Dengan memperlihatkan rasa empati, si Kecil akan merasa tenang dan diperhatikan.
Berikan Pujian
Saat si Kecil menunjukkan perilaku yang baik atau menuruti nasihat orang tua, tak ada salahnya memberikan pujian. Dengan begitu, ia akan termotivasi untuk mengulangi tindakan positif tersebut. Ia juga akan meras akan wujud kasih sayang dan perhatian dari pujian yang diberikan oleh orang tuanya.
Sebaliknya, bila si Kecil melakukan kesalahan, Skandis perlu menegurnya dan menekankan pentingnya untuk tidak mengulangi kesalahan itu kembali. Konsistensi ini akan membuat si Kecil semakin paham membedakan tindakan mana yang boleh dan tidak boleh ia lakukan.
Salah satu perilaku si Kecil yang sering membuat orang tua kewalahan adalah memilih-milih makanan atau susah makan. Hal ini tentu membuat Skandis khawatir, terutama terhadap berkurangnya asupan gizi si Kecil.



